EraNusantara – Sejak didirikan pada Februari tahun lalu, Danantara menjadi sorotan publik yang menanti-nanti pengumuman laporan keuangannya. Penantian ini akhirnya terjawab, meski belum dengan publikasi laporan itu sendiri. Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, akhirnya angkat bicara mengenai alasan di balik penundaan tersebut, mengungkapkan sebuah proses restrukturisasi besar-besaran yang tengah berlangsung di tubuh perusahaan pelat merah.
Dony menjelaskan, laporan keuangan Danantara bukanlah dokumen biasa yang bisa segera dirilis. Ia memiliki karakteristik unik, yakni merupakan hasil konsolidasi kompleks dari seluruh laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaannya. Proses ini, menurutnya, membutuhkan ketelitian ekstra dan pembenahan fundamental yang mendalam.

"Laporan keuangan Danantara itu adalah konsolidasi daripada laporan seluruh BUMN. Nah kami sedang melakukan pembersihan seluruh laporan daripada BUMN dan ada beberapa BUMN yang belum selesai," ungkap Dony saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026). Ia menambahkan, pihaknya menargetkan seluruh proses pembersihan dan penataan ulang laporan keuangan BUMN ini akan rampung pada akhir Juni tahun ini. Setelah itu, laporan keuangan Danantara diharapkan dapat difinalisasi dan dipublikasikan pada pertengahan tahun.
Langkah pembenahan ini tidak main-main. Danantara tengah gencar melakukan perbaikan menyeluruh terhadap tata kelola dan transparansi laporan keuangan di setiap perusahaan pelat merah. Ini adalah bagian krusial dari upaya membersihkan "buku-buku" keuangan BUMN serta menuntaskan persoalan penurunan nilai aset (impairment) yang selama ini membebani, sebelum laporan keuangan induk perusahaan dapat disajikan secara utuh kepada publik.
Dony secara gamblang memaparkan bahwa kelemahan tata kelola di masa lalu tercermin jelas pada lonjakan nilai impairment aset BUMN yang mencapai angka mencengangkan Rp 100 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari aset-aset yang nilainya harus disesuaikan karena berbagai masalah dan inefisiensi yang terjadi.
"Termasuk saya menyampaikan dalam beberapa kesempatan bahwa kita melakukan impairment hampir 100 triliun terhadap buku-buku BUMN," tegas Dony. Ia melanjutkan, "Ini bentuk daripada transparansi dan komitmen kita semua bahwa BUMN ke depan harus dikelola secara transparan." Pernyataan ini menegaskan komitmen Danantara untuk mewujudkan pengelolaan BUMN yang lebih akuntabel, transparan, dan bertanggung jawab demi masa depan ekonomi nasional yang lebih baik, sebagaimana dikutip eranusantara.co.
Editor: Rockdisc