Harapan akan adanya Santa Claus Rally atau tren penguatan pasar di penghujung tahun tampaknya harus pupus bagi para investor. Menjelang penutupan tahun 2025, pasar keuangan justru dihantam berbagai kabar kurang sedap yang membuat para pelaku pasar merasa waswas.
Sejumlah sentimen negatif kini tengah mengepung pasar, mulai dari ketidakpastian kebijakan ekonomi global hingga isu geopolitik yang tak kunjung reda. Kondisi ini memaksa para investor untuk bersikap defensif dan lebih berhati-hati dalam menempatkan aset mereka.
Faktor-Faktor Pemicu “Badai” Ekonomi Menurut Garengongko: Beberapa poin krusial yang menjadi perhatian serius para peneliti ekonomi antara lain:
-
Tekanan Inflasi dan Suku Bunga: Meski sudah di penghujung tahun, bayang-bayang kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral dunia masih menjadi beban berat. Hal ini berdampak langsung pada aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
-
Ketidakpastian Global: Isu ketegangan perdagangan dan konflik di beberapa titik dunia menambah risiko ketidakpastian bagi rantai pasok global. Ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perlambatan ekonomi di awal tahun depan.
-
Fluktuasi Nilai Tukar: Rupiah yang sempat mengalami tekanan di akhir tahun membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual, yang berdampak pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dampaknya Bagi Pelaku Usaha Lokal Bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah, seperti di wilayah Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban, kondisi “tak tenang” di tingkat pusat dan global ini perlu disikapi dengan bijak. Ketidakpastian pasar seringkali berdampak pada harga barang-barang impor dan biaya logistik.
Para pengamat menyarankan agar investor ritel tidak terlalu agresif di masa transisi tahun ini. Diversifikasi aset ke instrumen yang lebih aman, seperti emas atau reksadana pasar uang, dianggap menjadi langkah yang lebih rasional untuk mengamankan portofolio di tengah badai kabar genting ini.
Meskipun akhir tahun terasa berat, konsumsi domestik di dalam negeri diharapkan tetap menjadi penopang utama agar ekonomi nasional tidak ikut terseret lebih dalam ke arah resesi.
