EraNusantara – Gelombang protes anti-pemerintah kembali mengguncang Iran dalam sepekan terakhir, memicu kekhawatiran global. Demonstrasi besar-besaran ini bukan tanpa sebab; akar masalahnya terletak pada krisis ekonomi berkepanjangan yang membelit negara kaya minyak tersebut, mendorong rakyat ke titik frustrasi yang mendalam.
Data yang dihimpun eranusantara.co dari berbagai sumber internasional menunjukkan, setidaknya 29 jiwa melayang dan lebih dari 1.200 orang ditangkap hingga Selasa (6/1/2026) akibat eskalasi kerusuhan. Situasi ini semakin rumit dengan bayang-bayang potensi intervensi dari Amerika Serikat, yang selalu menjadi sorotan dalam dinamika politik Iran.

Presiden AS Donald Trump, dengan gaya khasnya, telah menyuarakan dukungan tegas bagi para demonstran, mengancam akan membela mereka jika diserang aparat keamanan Iran. Trump secara eksplisit memperingatkan bahwa AS siap bertindak jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan terhadap aksi damai. Ancaman ini bukan gertakan kosong. Sebelumnya, dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh militer AS yang kemudian membawanya ke New York.
"Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat," tegas Trump, seperti dilansir eranusantara.co, Selasa (6/1/2026), menggarisbawahi keseriusan Washington.
Mengingat rekam jejak AS yang pernah membom fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, ancaman Trump ini diperkirakan akan membuat otoritas Iran lebih berhati-hati dalam menindak demonstran. Analis dari Fitch Solutions bahkan memprediksi, "Kami melihat peningkatan risiko tindakan AS terhadap Iran pada awal tahun 2026 jika protes meningkat," mengindikasikan bahwa ketegangan bisa saja memuncak di awal tahun depan.
Di tengah ketidakpastian global, para pejabat Iran menyuarakan kekhawatiran bahwa negara mereka bisa menjadi target berikutnya dari kebijakan luar negeri agresif Trump. Krisis ekonomi yang melanda Iran saat ini berakar pada keputusan Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) yang membatasi program nuklir mereka sebagai imbalan pencabutan sanksi. Situasi diperparah oleh sanksi lanjutan pasca perang 12 hari dengan Israel, yang semakin menekan perekonomian.
Dampaknya terasa langsung pada indikator ekonomi makro. Mata uang resmi Iran, Rial, terpuruk ke titik terendah sepanjang sejarah pada Desember 2025, mencapai sekitar 1,45 juta rial per dolar AS. Pada periode yang sama, inflasi melonjak hingga 42,5%, menghantam daya beli rakyat secara signifikan.
Namun, pandangan menarik datang dari David Roche, seorang investor veteran dan ahli strategi dari Quantum Strategy. Menurut Roche, krisis ekonomi berkepanjangan justru menimbulkan risiko yang jauh lebih besar bagi kelangsungan rezim Iran ketimbang ancaman intervensi militer AS. "Iran tidak akan jatuh karena intervensi Amerika Serikat," tegas Roche. Ia berargumen, kombinasi protes yang terus-menerus dan memburuknya kondisi ekonomi domestik lah yang menjadi ancaman paling serius. Meskipun rezim mungkin mampu bertahan melewati gelombang demonstrasi kali ini, Roche pesimis mereka memiliki solusi konkret untuk mengatasi akar masalah ekonomi yang terus menggerogoti.
Dengan demikian, di tengah gejolak politik dan ancaman eksternal, tantangan terbesar Iran mungkin bukan datang dari Washington, melainkan dari dapur-dapur rakyatnya yang terus bergejolak karena himpitan ekonomi.
Editor: Rockdisc