Eranusantara.co – Konsumen di seluruh Indonesia mungkin mulai menyadari adanya perubahan pada sajian tahu dan tempe favorit mereka. Bukan pada rasa, melainkan pada ukurannya yang kian menciut. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan nyata dari tekanan ekonomi yang mendera para perajin di tengah lonjakan harga bahan baku utama, terutama kedelai, serta berbagai komponen produksi lainnya. Kondisi ini diperkirakan semakin berat pada tahun 2026, melebihi tantangan yang dihadapi pada tahun 2022.
Kenaikan harga kedelai menjadi pemicu utama krisis ini. Jika sebelumnya harga komoditas impor tersebut berkisar Rp 9.500 per kilogram, kini harganya melambung hingga Rp 11.600 per kilogram, bahkan menyentuh angka Rp 12.000 per kilogram di beberapa wilayah. Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Kusnoto, mengungkapkan bahwa beban yang ditanggung perajin saat ini jauh lebih berat. "Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini," ujarnya, menggambarkan situasi yang kompleks.

Para perajin tahu dan tempe berada dalam dilema. Mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk jadi karena khawatir akan kehilangan pelanggan. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, strategi yang paling banyak dipilih adalah mengurangi ukuran produk. Sebagai contoh, sebatang tempe yang biasanya dipotong menjadi enam bagian, kini harus dipotong menjadi tujuh bagian dengan harga jual yang sama. Ini adalah upaya putus asa untuk menjaga agar harga tetap terjangkau bagi konsumen, sekaligus mencoba mempertahankan sedikit keuntungan.
Perhitungan kasar menunjukkan betapa tipisnya margin keuntungan yang tersisa. Kusnoto mencontohkan, perajin yang mengolah satu kuintal kedelai per hari bisa menghasilkan sekitar 22 batang tempe. Jika satu batang tempe dijual Rp 10.000 dan dipotong menjadi tujuh bagian, omzet kotornya bisa mencapai Rp 1,54 juta. Namun, setelah dikurangi berbagai biaya produksi yang membengkak, keuntungan bersih yang didapat sangat minim. "Harga jual tahu dan tempe belum naik, alhasil disiasati mengecilkan ukuran. Sebagian besar mengurangi produksi, satu dua sudah mulai ada yang menghentikan produksinya karena dampak kedelai mahal," imbuh Kusnoto, mengindikasikan bahwa beberapa perajin bahkan terpaksa gulung tikar.
Tekanan biaya produksi ini tidak hanya datang dari kedelai. Data perbandingan dari Gakoptindo menunjukkan kenaikan signifikan pada berbagai komponen lain. Kurs dolar AS yang pada tahun 2022 berada di kisaran Rp 14.500-15.500, kini diperkirakan mencapai Rp 18.000, secara langsung memengaruhi harga kedelai impor. Harga plastik kemasan jenis PP/PE juga melonjak drastis, dari sekitar Rp 20.000-25.000 per kilogram pada tahun 2022 menjadi Rp 35.000-45.000 per kilogram pada tahun 2026. Biaya logistik atau ongkos ekspedisi yang menjadi indeks 100 pada tahun 2022, kini berada di kisaran indeks 125-145. Bahkan harga minyak goreng Minyakita, yang merupakan kebutuhan pokok, ikut naik dari HET Rp 14.000 per liter pada tahun 2022 menjadi Rp 15.700 per liter pada tahun 2026.
Meskipun semua komponen biaya ini merangkak naik, harga jual tempe 250 gram dan tahu 500 gram masih bertahan di angka Rp 5.000. Ini menunjukkan bahwa perajin belum mampu membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen, sehingga mereka harus menanggung sendiri selisihnya.
Di tengah himpitan biaya yang mencekik, para perajin sangat berharap pemerintah segera memperkuat kebijakan stabilisasi harga kedelai. Kusnoto menyebut adanya informasi mengenai program subsidi kedelai sekitar 250 ribu ton dengan nilai sekitar Rp 500 miliar. Namun, ia menyayangkan bahwa manfaat dari kebijakan tersebut belum dirasakan secara nyata oleh para perajin di lapangan. Skema subsidi ini, menurutnya, baru bisa diakses jika harga kedelai di pasar sudah menembus sekitar Rp 12.500-13.000 per kilogram, yang dinilai terlambat dan kurang komprehensif.
Kusnoto juga mengkritisi fokus kebijakan yang hanya pada kedelai, padahal biaya produksi tahu tempe melibatkan banyak komponen lain yang juga naik. "Kalau harga terus naik yang pasti bagi mereka yang punya modal akan tetap berproduksi walaupun katakanlah kedelai sampai harga Rp 15.000/kg, karena orang punya duit berapapun tempe harganya pasti di beli, namun juga nggak sedikit perajin yang bisa bertahan produksi, alias ya akan gulung tikar," pungkasnya, menggambarkan masa depan suram bagi perajin kecil yang tidak memiliki modal kuat. Tanpa intervensi yang lebih efektif, krisis tahu dan tempe ini berpotensi mengancam keberlangsungan salah satu industri pangan rakyat yang paling fundamental di Indonesia.