Eranusantara.co – Pemerintah Indonesia tengah menyusun strategi besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional agar mampu menyentuh angka 6 persen pada tahun 2027 mendatang. Ambisi besar ini menuntut dukungan modal yang sangat masif, di mana proyeksi kebutuhan investasi nasional diperkirakan akan melonjak tajam hingga mencapai angka Rp 2.218 triliun sampai Rp 2.258 triliun.
Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan investasi nasional harus bergerak stabil di angka 8 hingga 9 persen per tahun. Langkah ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah upaya transformasi ekonomi yang menyeluruh melalui penguatan sektor ekonomi hijau, ekonomi biru, serta penguatan ketahanan pangan, energi, dan air.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa kunci utama dalam transformasi ini adalah sinergi antara ketersediaan energi bersih dan percepatan infrastruktur digital. Kedua sektor ini akan dijadikan sebagai "mesin ganda" (twin engine) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing di kancah global.
"Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai penggerak utama. Sinergi antara energi bersih yang terjangkau dan infrastruktur digital yang cepat adalah kunci untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif," ujar Haryo dalam keterangan resminya.
Salah satu fokus utama pemerintah adalah memastikan keandalan energi hijau guna memenuhi kebutuhan listrik nasional yang diprediksi mencapai 700-800 TWh pada tahun 2030. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 GW berbasis energi terbarukan. Untuk mendukung hal tersebut, pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit akan terus dikebut guna menjamin pasokan listrik bagi sektor industri dan pusat data (data center).
Selain fokus pada industri, pemerintah juga berkomitmen pada pemerataan energi melalui program Listrik Desa. Targetnya, rasio elektrifikasi nasional dapat melampaui 99 persen dengan peningkatan indeks ketahanan energi ke angka 7,13.
Di sisi lain, kekayaan sumber daya mineral seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara menjadi modal kuat bagi program hilirisasi. Indonesia berupaya memanfaatkan momentum ini untuk masuk ke dalam rantai pasok global, terutama dalam ekosistem kendaraan listrik yang diprediksi memiliki nilai tambah hingga 67 kali lipat. Potensi ini telah menarik minat kemitraan strategis dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Kanada.
Guna mendukung pendanaan proyek-proyek strategis ini, pemerintah akan mengoptimalkan berbagai skema pembiayaan hijau, mulai dari green bonds, blended finance, hingga kerja sama internasional seperti JETP dan AZEC. Selain modal, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program vokasi dan magang juga menjadi prioritas agar tenaga kerja lokal siap mengisi kebutuhan industri hijau masa depan.