EraNusantara – Sebuah langkah strategis yang berpotensi mengubah lanskap ekonomi global terukir di Shanghai. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, baru-baru ini menggelar pertemuan bilateral krusial dengan Menteri Luar Negeri Republik Rakyat China, Wang Yi. Fokus utama diskusi adalah penguatan kemitraan strategis antara kedua negara raksasa Asia ini, mencakup spektrum luas mulai dari arsitektur tata kelola Kecerdasan Artifisial (AI) global, dinamika perdagangan, hingga akselerasi investasi di sektor hijau.
Pertemuan penting ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menko Airlangga ke China, khususnya dalam rangka penandatanganan deklarasi pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Indonesia, dengan bangga, menjadi salah satu negara pendiri organisasi kerja sama AI berskala internasional tersebut. Presiden China, Xi Jinping, bahkan secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas partisipasi aktif Indonesia sebagai anggota pendiri WAICO.

Posisi Indonesia dianggap sangat strategis. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi dan populasi yang signifikan, peran Indonesia dalam mendukung pembentukan WAICO dinilai krusial. Pemerintah Indonesia menaruh harapan besar agar WAICO dapat menjadi platform yang mendorong tata kelola AI global yang berkeadilan, mengutamakan manfaat pembangunan yang merata, berpusat pada manusia, menghormati kedaulatan nasional, serta menjunjung tinggi prinsip multilateralisme yang inklusif. Dengan perannya sebagai salah satu pilar pendiri, Indonesia juga mengusulkan agar mendapatkan posisi strategis dalam struktur kelembagaan sekretariat WAICO.
Selain sektor teknologi mutakhir, agenda pertemuan juga menyentuh penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Pemerintah Indonesia secara aktif mendorong percepatan akses pasar bagi produk-produk ekspor unggulan Indonesia ke China. Berbagai hambatan perdagangan yang ada juga menjadi fokus pembahasan untuk segera diselesaikan, guna memaksimalkan potensi kerja sama ekonomi kedua negara. Mengingat China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, baik dalam ekspor maupun impor, penguatan rantai pasok menjadi elemen vital untuk meningkatkan hubungan ekonomi bilateral.
Di ranah investasi, Indonesia menawarkan skema kerja sama pengembangan kawasan industri melalui program inovatif Two Countries Twin Parks (TCTP). Inisiatif ini dirancang untuk menarik partisipasi perusahaan-perusahaan China dalam pengembangan sektor manufaktur maju dan ekonomi digital di Indonesia. Tak hanya itu, sektor investasi hijau juga menjadi sorotan. Indonesia menyambut baik peluang kolaborasi dalam pengembangan energi terbarukan, termasuk program ambisius 100 GW Solar PV, sistem penyimpanan energi baterai (BESS), serta pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Morowali Green Industrial Park.
Menutup rangkaian diskusi, Indonesia juga menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan China dalam forum APEC 2026 yang akan diselenggarakan di Shenzhen pada November mendatang. Harapannya, momentum ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat kerja sama melalui pertemuan tingkat tinggi dan business summit yang melibatkan para pelaku usaha dari kedua negara. Sinergi yang kokoh antara Indonesia dan China ini diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan mendorong inovasi teknologi demi masa depan yang lebih cerah bagi kedua bangsa.
Editor: Rockdisc