EraNusantara – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia menolak untuk sekadar menjadi pasar atau konsumen teknologi semata. Ia menggarisbawahi komitmen kuat Indonesia untuk mengambil peran sebagai aktor kunci yang akan membentuk masa depan ekonomi digital dan ekosistem Kecerdasan Buatan (AI) di kancah global. Pernyataan ini disampaikan Airlangga dalam forum High-Level Meeting of World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) Founding State.
Airlangga menekankan bahwa AI kini telah menjadi bagian integral dari gelombang transformasi teknologi dunia, yang secara fundamental mengubah struktur perekonomian, mendefinisi ulang daya saing antarnegara, dan memengaruhi pendekatan setiap bangsa dalam membangun kedaulatan teknologinya. Oleh karena itu, Indonesia bertekad untuk tidak hanya menjadi penonton pasif dalam perlombaan kecerdasan buatan ini, melainkan menjadi arsitek aktif yang merancang dan membangun ekosistem AI global.

Visi ambisius ini ditopang oleh fondasi ekonomi Indonesia yang kokoh, bahkan di tengah gejolak geopolitik global, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan hingga 5,4% pada tahun 2026. Pemerintah secara konsisten mengintegrasikan percepatan adopsi teknologi dengan upaya penguatan kemandirian bangsa. Langkah konkret telah diambil sejak awal tahun 2026, ditandai dengan kerja sama strategis di sektor semikonduktor dan AI bersama raksasa teknologi ARM Holdings pada Februari 2026. Kemitraan ini, menurut Airlangga, krusial dalam memposisikan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok digitalisasi global.
Dengan populasi internet yang masif, mencapai sekitar 235 juta pengguna atau setara 81% penetrasi pada tahun 2026, Indonesia memiliki landasan kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan AI dan infrastruktur digital regional. Untuk memaksimalkan potensi signifikan dalam pengembangan dan penerapan teknologi AI ini, Pemerintah sedang merumuskan Peta Jalan AI Nasional (National AI Roadmap). Dokumen strategis ini akan menjadi panduan komprehensif bagi pengembangan ekosistem AI di tanah air, meliputi investasi infrastruktur digital, peningkatan kualitas talenta, penggalakan riset dan inovasi, serta pembentukan kerangka tata kelola AI yang etis dan bertanggung jawab.
Ekosistem digital yang kokoh ini didukung secara langsung oleh infrastruktur yang memadai. Saat ini, Indonesia telah mengoperasikan 182 pusat data, dengan konsentrasi signifikan di Jakarta (94) dan Batam (16). Proyeksi pertumbuhan layanan komputasi awan (cloud computing) dan AI di masa depan diperkirakan akan secara substansial meningkatkan permintaan kapasitas pusat data nasional. Kondisi ini, menurut Airlangga, akan membuka gerbang peluang investasi yang jauh lebih besar di sektor digital.
Airlangga menegaskan bahwa Indonesia siap sepenuhnya mendukung keberhasilan jangka panjang WAICO, dengan memanfaatkan kekuatan pasar domestik, sumber daya strategis yang melimpah, dan inovasi kebijakan yang progresif. "Bersama-sama, mari kita wujudkan komitmen teknologi ini menjadi capaian nyata yang mendorong kesejahteraan kolektif dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi seluruh negara," pungkas Airlangga, seperti dikutip eranusantara.co.
Editor: Rockdisc