EraNusantara – Rak-rak beras premium di sejumlah toko ritel modern terpantau kosong melompong, memicu kekhawatiran di kalangan konsumen. Menanggapi situasi genting ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan tegas meminta Perum Bulog untuk segera mengguyur pasar dengan tambahan 300.000 ton beras premium. Tak hanya itu, Amran bahkan menuding adanya "mafia" di balik kelangkaan yang terjadi, mengindikasikan adanya permainan pasar yang sistematis.
Saat ditemui di kediamannya di Jakarta Selatan pada Senin (21/9/2026), Amran membantah keras adanya kelangkaan beras secara nasional. "Sudah kita kirim. Beras aman. Yang mengatakan tidak aman? Ya mungkin afiliasi mafia," ujarnya dengan nada tegas. Ia menekankan bahwa stok beras di pasar tradisional masih melimpah ruah dan harganya cenderung stabil, bahkan terbilang murah. Hal ini, menurut Amran, menunjukkan adanya disparitas kondisi yang mencurigakan antara pasar tradisional dan ritel modern.

Menurut Amran, fenomena kekosongan di ritel modern ini memiliki dimensi yang berbeda. Ia mengaitkan kelangkaan di toko-toko modern dengan penyelidikan terhadap isu beras fortifikasi yang sedang berlangsung. "Berarti beli di mana? Kalau di pasar beli, murah apa mahal? Di pasar tradisional murah apa mahal? Murah kan? Turun nggak harga? Iya berarti anda jawab sendiri. Berarti yang naikkan selama ini apa? Dulu kalau tidak ada stok, harga naik kan? ‘Wah, menterinya salah nih, impor.’ Begitu sekarang banyak beras, apa alasannya lagi? Tidak impor, apa alasannya lagi? Berarti memang ada mafia dari dulu. Ini yang harus diberesin," jelas Amran, menyoroti dugaan praktik manipulasi yang telah berlangsung lama.
Mentan juga mengklaim bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini berada pada posisi yang sangat kuat, hampir mencapai 5 juta ton. "Berasnya banyak, kurang lebih 5 juta ton, 4,6 hari. Kita sewa gudang, 2 juta ton. Udah, kita kirim. Beras aman," tegasnya. Ia menambahkan bahwa dirinya telah menginstruksikan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memerintahkan Bulog mengguyur 300.000 ton beras, bahkan "kali tiga" jika diperlukan, demi memastikan ketersediaan di seluruh lini distribusi.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda dari klaim ketersediaan stok. Berdasarkan pantauan eranusantara.co pada Sabtu (19/9/2026), beberapa ritel modern memang mengalami kekosongan beras premium. Di Alfamidi Pondok Ranji, Tangerang Selatan, misalnya, hanya tersisa satu kemasan beras SPHP ukuran 5 kg. Situasi serupa terlihat di Indomaret Jalan Raya Jombang, di mana stok beras premium hanya tersedia dari merek Bulog seperti Punokawan ukuran 10 kg, sementara jenis premium lainnya tidak ditemukan.
Sebelumnya, Perum Bulog dilaporkan telah menyalurkan 110.000 ton beras premium ke ritel modern dalam beberapa bulan terakhir untuk mengatasi kelangkaan. Namun, upaya ini tampaknya belum sepenuhnya meredakan masalah kekosongan yang masih terjadi, memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas distribusi dan dugaan adanya pihak-pihak yang sengaja menahan pasokan.
Editor: Rockdisc