EraNusantara – Kisah inspiratif datang dari Klaten, Jawa Tengah. Pasangan suami istri Didi Marianto dan Ernawati, pemilik usaha gitar ‘JR Sanjaya’, tak pernah menyangka bisnis rumahan mereka akan mendunia. Berkat kunjungan tak terduga dari Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, gitar buatan tangan mereka kini laris manis hingga menembus pasar ekspor, mengubah nasib dari modal seadanya menjadi kebanggaan nasional.
Beberapa waktu lalu, Mendag Budi Santoso menyambangi langsung sentra UMKM di Klaten. Dalam kunjungan tersebut, ia tak hanya melihat-lihat, namun juga membeli salah satu gitar JR Sanjaya. Tak berhenti di situ, Mendag kemudian secara aktif mempromosikan gitar tersebut kepada tamu-tamu di kantornya, baik dari dalam maupun luar negeri. "Alhamdulillah (usaha) berkembang Pak, setelah kunjungan dari Bapak," ungkap Didi kepada Budi Santoso melalui sambungan telepon, seperti diunggah di akun Instagram pribadi Mendag.

Promosi langsung dari seorang menteri dan tim Kementerian Perdagangan (Kemendag) ini terbukti ampuh. Gitar JR Sanjaya kini berhasil menembus pasar internasional. Ribuan unit gitar telah dikirim ke Malaysia dan Filipina, membuktikan kualitas produk lokal mampu bersaing di kancah global. Kualitas yang tak kalah dengan produk luar negeri menjadi poin utama yang selalu ditekankan Mendag Budi Santoso saat memperkenalkan gitar ini kepada para tamunya.
Didi tak henti-hentinya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Budi Santoso dan Kemendag. Ia merasa bangga dan terharu usahanya yang semula kecil bisa mendapat perhatian sebesar ini. "Jadi yang mau saya sampaikan buat Kemendag, Pak Busan (Budi Santoso), apresiasi yang setinggi-tingginya, saya mengucapkan banyak terima kasih. Itu sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa sampai dikunjungi oleh seorang menteri," katanya, penuh haru. Sinergi dengan Kemendag ini, menurut Didi, membuka peluang emas bagi UMKM. Dampaknya terasa langsung pada peningkatan omzet, perluasan lapangan kerja, dan pengenalan merek yang signifikan. Produksi pun meningkat dua kali lipat, membuktikan validitas produk lokal di mata pasar global.
"Semakin dikenal, terus akhirnya berpengaruh ke omzet kita. Kita jadi bisa tambah karyawan, kita bisa jual ke luar negeri, akhirnya kita bisa jadi bagian dari sektor riil di daerah kita. Kita bisa merekrut tenaga kerja baru dengan jumlah yang lumayan," imbuh Didi, menjelaskan dampak positif yang dirasakan usahanya.
Menengok ke belakang, Didi dan Ernawati memulai JR Sanjaya pada tahun 2017. Dengan modal awal yang sangat terbatas, mereka mengandalkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bahkan hanya bermodal satu sepeda motor Mio. "Waktu itu ada program pemerintah KUR, kita punya sepeda motor 1 Mio, itu bisa bantu kita. Alhamdulillahnya bisa jalan (usahanya) sampai sekarang," kenang Didi. Ernawati menambahkan, di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi COVID-19, pertolongan datang tak terduga. Seorang teman di Tangerang membantu mereka menyuplai gitar ke seluruh Jakarta dan luar pulau, menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnis mereka.
Bagi para pelaku UMKM lain, Didi dan Erna memiliki pesan kuat. Mereka meminta agar tidak patah semangat dan selalu yakin akan kualitas produk Indonesia. "Jangan khawatir produk Indonesia itu tetap punya nama dan bagus, apalagi kalau sudah dikunjungi sama Pak Busan, itu pasti ter-maintenance dengan baik," tegas Didi. Ia menekankan bahwa UMKM lokal memiliki potensi besar dan sumber daya melimpah yang belum tentu dimiliki negara lain. "Jadi jangan takut, kita punya kemampuan, kita bisa untuk bersaing dengan produk luar," pungkasnya, penuh keyakinan, seperti dilansir eranusantara.co. Kisah JR Sanjaya adalah bukti nyata bahwa dengan kegigihan, dukungan pemerintah, dan kualitas yang mumpuni, produk lokal mampu menembus batas dan berjaya di pasar global.
Editor: Rockdisc