Eranusantara.co – Gelaran akbar Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya menyuguhkan tontonan balap motor kelas dunia yang memacu adrenalin, tetapi juga menjelma menjadi ladang rezeki bagi masyarakat lokal. Selama rangkaian acara berlangsung, ribuan warga Lombok memperoleh kesempatan emas untuk berpartisipasi aktif, mengisi berbagai posisi pekerjaan mulai dari petugas kebersihan hingga koordinator pengelolaan limbah. Bagi mereka, ajang internasional ini bukan sekadar hiburan, melainkan peluang berharga untuk meningkatkan pendapatan dan memperkaya pengalaman kerja.
Salah satu yang merasakan langsung berkah ini adalah Baiq Essenza (20), seorang pemudi asal Praya, Lombok. Untuk pertama kalinya, Essenza mendapat kesempatan bekerja di area Pertamina Mandalika International Circuit, bergabung dalam tim kebersihan. Tugasnya bervariasi, mulai dari menyapu, menjaga kebersihan area sirkuit, hingga turut serta dalam proses pemilahan sampah. Essenza mengungkapkan rasa bangganya bisa menjadi bagian dari perhelatan balap motor bergengsi ini, apalagi ia ditempatkan di area paddock yang merupakan jantung operasional balapan. Pendapatan yang ia peroleh akan digunakan untuk menopang kebutuhan rumah tangga dan membantu orang tuanya. "Sangat membanggakan. Baru pertama kali ikut Pertamina Grand Prix of Indonesia dan langsung ditaruh di paddock. Sangat bikin saya bangga bisa kerja di sini," ungkap Essenza pada Jumat (9/10/2026). Ia berharap ajang balap di Mandalika dapat terus berlanjut setiap tahun, sehingga semakin banyak warga lokal yang mendapatkan kesempatan serupa.

Dampak ekonomi yang signifikan juga dirasakan oleh Lia Kartika, warga Sengkol, yang dipercaya mengemban amanah sebagai koordinator Cleaning Service Waste Management (CSWM) di Sirkuit Mandalika. Lia menjelaskan bahwa timnya terbagi menjadi dua, yakni tim kebersihan yang bertugas menjaga kebersihan ruangan dan tim pengelolaan sampah yang fokus pada area lapangan. Bersama timnya, Lia bekerja selama 12 jam sehari, dari pukul 07.00 hingga 18.00 WITA. Ia telah beberapa kali terlibat dalam penyelenggaraan acara di sirkuit tersebut, setelah sebelumnya aktif sebagai ibu rumah tangga. "Dampak ekonominya bagus banget. Dampak dari sirkuit ini karena banyak ekonomi terbantu di sini dan makin memperkecil pengangguran warga Lombok," tutur Lia. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan juga jembatan untuk mewujudkan impian keluarga yang sebelumnya sulit dicapai. Berkat pendapatan dari pekerjaannya, ia kini mampu mencicil kendaraan bermotor dan menabung untuk membeli emas. "Yang tadinya enggak bisa sama sekali, sekarang bisa karena sirkuit ini. Sejak beberapa kali ikut bantu-bantu di event saya jadi bisa cicil motor dan menabung beli emas. Alhamdulillah," ujarnya bersyukur.
Kesempatan kerja di sirkuit juga menjadi angin segar bagi Elyani Sulistianda, warga Praya yang bertugas dalam pengelolaan dan pemilahan sampah. Selama sekitar tujuh hari mengikuti rangkaian kegiatan MotoGP, Elyani merasakan langsung manfaat kehadiran acara tersebut, terutama bagi generasi muda yang membutuhkan pekerjaan. "Sudah ada banget dampak untuk ekonomi bagi kita, apalagi kita anak-anak muda yang benar-benar butuh pekerjaan," kata Elyani.
Tak hanya bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman, gelaran ini juga menjadi ajang bagi anak muda untuk memulai jejak profesional. Hal ini dialami Feri Zon Lahardi (20), pemuda asal Sakra Barat, Lombok Timur, yang memanfaatkan masa libur kuliahnya untuk bekerja paruh waktu selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Feri mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari temannya. Setelah mendaftar dan melalui proses wawancara, ia menjalani pelatihan selama dua hari sebelum mulai bertugas. Feri bekerja selama 12 jam, dari pukul 07.00 hingga 19.00 WITA. Selain mendapatkan penghasilan tambahan untuk membantu biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari, ia juga memperoleh pengalaman baru yang sangat berharga sebagai bekal memasuki dunia kerja setelah lulus. "Saya cuma pengen cari pengalaman saja. Mumpung lagi muda, biar ada banyak pengalamannya buat nambah CV nanti," ujar Feri. Kesempatan bekerja di ajang internasional ini juga memberinya ruang untuk berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, di mana kemampuan berbahasa Inggrisnya menjadi nilai tambah. "Pastinya saya sangat bangga bisa mengikuti event internasional ini dan sangat senang sekali bisa dapat banyak teman, banyak dapat pengalaman, apalagi bisa ngobrol dengan bule-bule. Saya harap sih gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia lancar-lancar dan terus ada tiap tahunnya," pungkasnya penuh harap.
Kisah Essenza, Lia, Elyani, dan Feri adalah bukti nyata bahwa Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 tidak hanya menghadirkan tontonan olahraga kelas dunia, tetapi juga membuka pintu kesempatan bagi masyarakat lokal untuk memperoleh penghasilan, membangun pengalaman kerja, dan meningkatkan taraf hidup. Manfaat ekonomi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari geliat pembangunan dan peluang yang terus tumbuh seiring dengan penyelenggaraan berbagai ajang internasional di Mandalika.