Eranusantara.co – Raksasa e-commerce global, Amazon, kembali menjadi sorotan publik setelah mengonfirmasi adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya. Ironisnya, kabar restrukturisasi tenaga kerja ini mencuat di tengah kemeriahan pesta diskon besar-besaran yang sedang digelar perusahaan, yakni Prime Big Deal Days. Pemangkasan karyawan kali ini secara spesifik menyasar divisi ritel, terutama unit yang bertanggung jawab mengelola operasional inti platform belanja daring utama perusahaan.
Momen pengumuman PHK yang bertepatan dengan ajang diskon spektakuler ini menimbulkan pertanyaan besar. Prime Big Deal Days, yang berlangsung selama dua hari penuh, merupakan salah satu event penjualan terbesar Amazon, menawarkan berbagai penawaran menarik dan diskon fantastis kepada jutaan pelanggannya di seluruh dunia. Namun, di balik euforia belanja dan angka penjualan yang diprediksi melonjak, ribuan karyawan justru harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan pekerjaan mereka. Kontras antara perayaan konsumerisme dan nasib pekerja ini menjadi narasi yang mengkhawatirkan.

Gelombang PHK terbaru ini bukan kali pertama bagi Amazon. Ini menambah panjang daftar pemangkasan karyawan yang telah dilakukan perusahaan dalam skala yang lebih kecil, setelah sebelumnya Amazon memulai gelombang PHK masif terhadap sekitar 30.000 karyawan pada tahun lalu yang berlanjut hingga Januari. Bahkan, sebelum pengumuman terbaru ini, Amazon juga dikabarkan telah memberhentikan kurang dari 1.000 pekerja kerah putih di berbagai departemen. Pola efisiensi yang berkelanjutan ini menunjukkan adanya pergeseran strategi bisnis dan prioritas perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar global.
Seorang juru bicara Amazon, dalam pernyataannya yang dikutip dari Reuters pada Jumat (9/10/2026), menjelaskan bahwa penyesuaian pada beberapa bagian dari bisnis Toko dilakukan karena perusahaan meyakini struktur baru ini akan memungkinkan mereka untuk mewujudkan prioritas dengan lebih baik. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa langkah PHK merupakan bagian dari upaya restrukturisasi internal yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan fokus pada area-area strategis yang dianggap lebih krusial bagi pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.
Laporan internal yang diterima Reuters dari saluran Slack perusahaan menunjukkan bahwa pemangkasan ini terjadi di berbagai divisi dalam unit toko, termasuk layanan pelanggan dan layanan mitra penjualan. Hal ini mengisyaratkan bahwa dampak PHK tidak hanya terfokus pada satu area saja, melainkan menyebar ke berbagai fungsi pendukung operasional e-commerce. Selain itu, pemangkasan ini tidak hanya terbatas pada satu wilayah geografis. Karyawan di Amerika Serikat (AS), India, dan Inggris termasuk di antara mereka yang menerima surat pemberitahuan PHK, menunjukkan skala global dari keputusan restrukturisasi ini.
Pendiri Amazon, Jeff Bezos, sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai alasan di balik serangkaian PHK yang berkelanjutan. Ia mengungkapkan bahwa pemangkasan ini diperlukan karena perusahaan melakukan perekrutan berlebihan selama pandemi Covid-19. Pada masa itu, dengan banyaknya orang yang terpaksa tinggal di rumah, permintaan akan barang-barang daring melonjak drastis, menciptakan periode yang luar biasa dan penuh tekanan bagi operasional Amazon. "Seluruh tim bekerja sangat keras dan melakukan banyak hal, tetapi kami benar-benar menambah jumlah karyawan," pungkas Bezos, mengakui adanya kelebihan kapasitas tenaga kerja yang kini harus disesuaikan.
Fenomena PHK di Amazon, yang terjadi di tengah periode penjualan besar, menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan teknologi raksasa dalam menyeimbangkan pertumbuhan, efisiensi, dan kondisi pasar yang terus berubah. Keputusan untuk mengurangi jumlah karyawan, meskipun sulit, seringkali dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang, terutama setelah periode ekspansi pesat yang didorong oleh kondisi pasar yang tidak biasa.