Eranusantara.co – Pulau Pari di Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu komitmen kuat SeaBank Indonesia dalam mengembangkan ekonomi biru berkelanjutan. Melalui program bertajuk ‘Women of the Sea: The Blue Economy Development’, bank digital ini, bekerja sama dengan Yayasan Pandu Laut, menggelar serangkaian kegiatan edukasi dan pelestarian lingkungan pada Sabtu, 5 Oktober 2026. Inisiatif ini berpusat di Pantai Rengge, salah satu permata wisata Kepulauan Seribu, dengan tujuan memberdayakan masyarakat pesisir sekaligus menjaga kelestarian alamnya.
Di balik pesona Pantai Rengge yang memikat wisatawan, tersimpan ancaman serius berupa abrasi yang menggerus garis pantai. Data menunjukkan, abrasi telah menyebabkan daratan terkikis hingga sembilan meter. Merespons kondisi darurat ini, SeaBank memfasilitasi penanaman 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora stylosa. Aksi ini bukan yang pertama, melainkan kelanjutan dari upaya serupa yang telah dilakukan SeaBank pada Agustus 2022, menunjukkan konsistensi dalam mitigasi dampak perubahan iklim dan erosi pesisir.

Selain penanaman mangrove, program ini juga melibatkan kegiatan bersih-bersih pantai secara serentak. Inisiatif ini bertujuan ganda: mencegah pencemaran laut oleh sampah plastik yang mengancam ekosistem, serta mengedukasi warga dan wisatawan mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Diharapkan, langkah-langkah ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir.
Fokus SeaBank tidak hanya pada pemulihan lingkungan, tetapi juga merambah ke pemberdayaan ekonomi. Bank ini secara khusus menyasar para pelaku usaha mikro rumahan di kawasan pesisir, terutama kaum perempuan. Mereka adalah tulang punggung keluarga yang aktif menggerakkan sektor pariwisata lokal, mulai dari pengelolaan homestay, penyewaan perahu, hingga usaha kuliner tradisional. Untuk mendukung peran vital ini, SeaBank menyelenggarakan program literasi keuangan yang dirancang khusus.
Lindawati Octaviani, Direktur Keuangan SeaBank Indonesia, menjelaskan bahwa edukasi keuangan ini dikemas agar mudah dipahami masyarakat melalui konsep pengelolaan sumber daya yang ia singkat sebagai "OTW" – Otak, Tenaga, dan Waktu. "Literasi keuangan bukan hanya tentang uang, tapi bagaimana kita belajar mengelola kehidupan yang lebih baik. OTW berarti Otak untuk berpikir kreatif dan berinisiatif mencari penghasilan; Tenaga untuk bekerja keras dan membagi peran; serta Waktu 24 jam yang dimanfaatkan secara produktif," terang Lindawati pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Program literasi keuangan dasar ini disambut antusias oleh warga setempat. Asmaniah, salah seorang ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha di Pulau Pari, mengungkapkan bahwa ia kini memiliki pemahaman baru dalam memetakan arus keuangan usaha dan rumah tangganya. "Sangat senang karena ibu-ibu di sini jadi punya kesempatan mengelola keuangan. Selama ini kalau dapat uang tidak pernah dirinci pengeluarannya. Dengan kegiatan ini, kami jadi lebih paham cara mengaturnya," ujar Asmaniah.
Senada dengan Asmaniah, Deli, warga Pulau Pari lainnya, merasa mendapatkan pengalaman dan ilmu baru dari interaksi bersama tim SeaBank. "Sebagai perempuan yang biasanya mengurus keuangan, ada tambahan ilmu dan pengalaman berkumpul bersama kawan-kawan. Jadi lebih tahu cara mengelolanya," imbuhnya. Pengalaman ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian finansial para perempuan pesisir.
Sasmaya Tuhuleley, Direktur Utama SeaBank Indonesia, menegaskan bahwa kehadiran SeaBank di Pulau Pari adalah wujud komitmen untuk menjadi mitra dan sahabat bagi warga setempat, khususnya mereka yang bergantung pada sektor pariwisata. Menurutnya, Pulau Pari memiliki potensi besar yang dapat terus dikembangkan melalui akses keuangan digital serta pemberdayaan masyarakat dan lingkungan. "Kami melihat ada potensi besar di Pulau Pari yang bisa terus dikembangkan. Karena itu, kami ingin hadir sebagai mitra dan sahabat bagi masyarakat, baik melalui akses keuangan digital maupun pemberdayaan lingkungan," ujar Sasmaya.
Upaya ini juga merupakan bagian integral dari komitmen SeaBank dalam menyelaraskan kegiatan bisnis perbankan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Bagi SeaBank, pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan adalah dua pilar yang dapat berjalan beriringan untuk mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. "Untuk bisnis yang berkelanjutan, setiap unit usaha harus menjalankan prinsip ESG. Pulau Pari memiliki pantai yang bersih dan ekosistem mangrove yang tertata. Hal ini bukan hanya mencegah abrasi, tetapi juga diharapkan mampu menarik wisatawan sehingga perekonomian warga terus bertumbuh," tambah Sasmaya.
Sebagai solusi inovatif atas keterbatasan lahan pertanian dan air bersih di kawasan pulau kecil, SeaBank turut memperkenalkan teknologi bercocok tanam sistem akuaponik. Melalui inovasi ini, masyarakat pesisir diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan secara efisien di tengah keterbatasan sumber daya, menambah dimensi keberlanjutan dalam program ekonomi biru mereka.