Eranusantara.co – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi jangka panjang demi memperkuat ekosistem peternakan nasional. Inisiatif ini dirancang secara menyeluruh, mencakup seluruh mata rantai dari hulu hingga hilir, mulai dari ketersediaan pakan, pola kemitraan strategis, hingga proses pengolahan produk akhir. Tujuannya jelas: menjaga pasokan pakan tetap stabil, menekan gejolak harga, dan memastikan para peternak dapat meraih keuntungan yang berkelanjutan. Langkah strategis ini dibahas dalam sebuah pertemuan penting yang melibatkan perwakilan peternak, koperasi, dan berbagai asosiasi terkait di Jakarta.
Pemerintah bertekad untuk membangun sebuah sistem terintegrasi yang mampu mengeliminasi permasalahan klasik yang kerap menghantui peternak, seperti kelangkaan pakan dan lonjakan harga, terutama pada periode krusial antara September hingga Desember. Amran Sulaiman menekankan bahwa kebijakan yang dihasilkan dari pertemuan ini diharapkan menjadi solusi permanen. "Arahan Bapak Presiden sangat jelas, dengarkan suara rakyat, dengarkan suara peternak dan petani Indonesia. Buat regulasi yang menguntungkan, yang berpihak pada mereka," ujar Amran dalam keterangannya baru-baru ini, mengacu pada instruksi langsung dari Kepala Negara.

Inti dari visi ini adalah penciptaan sebuah ekosistem peternakan yang terintegrasi dan saling mendukung. Para peternak nantinya akan berperan aktif dalam membina petani jagung sebagai pemasok utama bahan baku pakan, sekaligus menjadi pembeli hasil panen mereka. "Yang pertama adalah kita membangun ekosistem yang sehat. Dari hulu sampai hilir harus kita jaga. Kita bangun sistem yang bagus," tegasnya, menggambarkan fondasi utama dari kebijakan ini.
Pada sisi hulu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan program bantuan benih jagung gratis untuk lahan seluas 20.000 hektare yang akan disalurkan hingga Desember 2026. Program ini bertujuan untuk memperkuat kemitraan antara peternak dan petani, memastikan pasokan bahan baku pakan terpenuhi dari produksi dalam negeri. Setelah panen, peternak akan menjadi pembeli utama. Jika terjadi kelebihan pasokan, Perum Bulog akan bertindak sebagai offtaker atau penyerap hasil panen, menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Untuk mendukung operasional ini, pemerintah juga mengalokasikan 20 unit traktor pada tahap awal, dengan potensi penambahan sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain itu, Amran juga meminta Bulog untuk menjaga ketersediaan stok jagung pada bulan-bulan kritis. Pemerintah menargetkan stok jagung mencapai 250.000 ton guna menjamin kebutuhan pakan peternak selalu terpenuhi. "Ini dijaga. Stoknya kita minta 250.000 ton pada bulan-bulan kritis," jelasnya. Pemerintah juga memperkuat mekanisme resi gudang untuk mengatasi keterbatasan modal yang sering dialami koperasi maupun peternak. Melalui skema ini, jika peternak belum mampu membeli seluruh hasil panen, Bulog akan membeli dan menyimpannya di gudang. Stok tersebut tetap menjadi milik koperasi atau peternak, berfungsi sebagai "tabungan" yang bisa ditarik kembali saat dibutuhkan, terutama ketika harga jagung di pasaran melambung tinggi.
Bergerak ke sisi hilir, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tingkat konsumsi telur diupayakan naik menjadi tiga kali seminggu, yang diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di tingkat peternak. Ketersediaan bahan baku pakan berupa soybean meal (SBM) juga diupayakan penyediaannya melalui ID FOOD. Pasokan SBM ini diharapkan dapat menekan biaya produksi karena disalurkan langsung kepada peternak dengan harga yang lebih terjangkau.
Amran Sulaiman menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk berada di sisi peternak. "Selama kami sehat, kami berada di sisi petani. Tidak akan saya biarkan peternak jalan sendiri. Kami akan membela semaksimal mungkin. Itu perintah Bapak Presiden: jaga mereka, lindungi mereka, beri kesempatan peternak untung, pasti dia berproduksi," tegasnya dengan nada meyakinkan. Ia juga meminta seluruh asosiasi dan koperasi untuk turut mengawal implementasi ekosistem baru ini. Pemerintah berkomitmen untuk terus menyempurnakan regulasi demi memastikan rantai usaha peternakan berjalan sehat dan berkelanjutan. "Intinya kita bangun ekosistem. Ekosistem ini adalah solusi permanen," pungkasnya.