Eranusantara.co – Situasi geopolitik global saat ini tengah berada dalam fase yang sangat krusial dan penuh ketidakpastian. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Suahasil Nazara, memberikan peringatan keras mengenai dinamika kekuatan dunia yang mulai menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Salah satu sorotan utama adalah ambisi Amerika Serikat yang dinilai memiliki agenda tersendiri, termasuk upaya untuk mendominasi Selat Hormuz serta keterlibatan dalam konflik di berbagai belahan dunia lainnya.
Dalam keterangannya pada acara Investor Daily Summit 2026 yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Suahasil menekankan bahwa gejolak politik internasional ini bukan sekadar isu luar negeri biasa. Fenomena ini memiliki kaitan erat dengan kebijakan fiskal yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Menurutnya, setiap ketegangan antarnegara, baik yang terjadi di Timur Tengah maupun konflik yang masih berlanjut di wilayah Eropa, akan berdampak langsung pada stabilitas perdagangan internasional serta fluktuasi harga komoditas global.

Suahasil menjelaskan bahwa ketegangan ini memicu terjadinya fragmentasi perdagangan dunia. Kondisi di mana blok-blok ekonomi mulai memisahkan diri dapat menjadi ancaman serius, mengingat hampir seluruh negara di dunia saat ini masih sangat bergantung pada rantai pasok barang dan jasa dari negara lain. Perubahan peta kekuatan ini memaksa setiap negara untuk meninjau kembali strategi ekonomi mereka agar tidak terombang-ambing oleh konflik yang tidak terduga.
Meski dihantam badai ketidakpastian global, Suahasil mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi dan fiskal Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Dibandingkan dengan negara-negara anggota G20 lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih sangat solid. Pada kuartal II, Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen, sebuah angka yang melampaui rata-rata pertumbuhan banyak negara maju dan berkembang lainnya, dengan India sebagai satu-satunya negara G20 yang mencatatkan angka lebih tinggi.
Selain pertumbuhan yang positif, tingkat inflasi di Indonesia juga dinilai masih berada pada level yang terkendali, yakni di kisaran 3,28 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter dan fiskal berjalan secara harmonis di tengah tekanan global.
Namun, pemerintah tetap waspada terhadap dampak kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik. Kenaikan harga minyak mentah di pasar global berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Menanggapi hal tersebut, pemerintah mengambil langkah strategis dengan tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan lancar.
Langkah menjaga harga BBM ini tentu memiliki konsekuensi pada beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Suahasil menjelaskan bahwa selisih antara harga pasar dunia dengan harga subsidi akan ditanggung oleh negara. "Yang menanggung adalah pembayar pajak. Pendapatan negara digunakan untuk menutup selisih subsidi tersebut. Ini adalah bentuk gotong royong melalui instrumen APBN agar ekonomi masyarakat tetap stabil," pungkasnya.