Eranusantara.co – Indonesia kini tengah berada di persimpangan jalan yang cukup krusial. Bukan sekadar menghadapi satu gangguan ekonomi, bangsa ini justru sedang dihantam oleh empat guncangan besar yang datang secara bersamaan. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, memberikan peringatan keras mengenai situasi kompleks yang sedang dihadapi Indonesia. Dalam sebuah diskusi ilmiah di Jakarta Selatan, ia menekankan bahwa menghadapi satu jenis krisis saja sudah menuntut respons kebijakan yang sangat matang, apalagi jika harus menghadapi empat disrupsi sekaligus dalam satu waktu.

"Kita menghadapi bukan hanya satu guncangan atau satu krisis, atau satu disrupsi. Kita menghadapi empat krisis atau guncangan pada saat yang bersamaan. Satu saja sudah akan membuat kita harus berpikir keras mengenai bagaimana kita harus melakukan respons. Tapi kalau empat pada saat yang bersamaan, bagaimana lagi," ujar Mari Elka dalam acara Memorial Lecture di Universitas Atma Jaya.
Mari Elka merinci bahwa guncangan pertama datang dari faktor eksternal, yakni ketidakpastian ekonomi global yang sangat tinggi. Salah satu pemicu utamanya adalah kebijakan tarif Amerika Serikat serta tensi perdagangan yang terus memanas antara Amerika Serikat dan China. Ketegangan geopolitik ini menciptakan efek domino yang mengganggu rantai pasok dunia.
Guncangan kedua berkaitan dengan konflik geopolitik di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, sehingga konflik di sana berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak dunia. Hal ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan fiskal negara. Wakil Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, turut menyoroti bahwa gejolak harga minyak ini diprediksi akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan akan menekan anggaran negara secara signifikan.
Sementara itu, tantangan ketiga datang dari dalam negeri. Indonesia masih berjuang keras untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional serta mengatasi masalah ketimpangan pembangunan antarwilayah yang masih terasa nyata. Ketimpangan ini jika tidak segera diatasi dapat menghambat pemerataan kesejahteraan di seluruh pelosok negeri.
Terakhir, Indonesia menghadapi tantangan terkait bonus demografi. Saat ini, hampir separuh penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Fenomena ini sejatinya adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang luar biasa jika dikelola dengan benar. Namun, Mari Elka memperingatkan bahwa bonus demografi bisa berubah menjadi bencana sosial jika tidak dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja yang masif.
"Penciptaan lapangan pekerjaan dengan tingkat pendapatan yang layak menjadi tantangan utama kita. Jika gagal, hal ini akan berdampak pada menyusutnya kelas menengah kita," tambah Mari Elka. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu mengubah tantangan ini menjadi peluang emas melalui kebijakan yang tepat sasaran.
eranusantara.co