EraNusantara – Raksasa otomotif mewah asal Jerman, Mercedes-Benz, tengah menghadapi dilema serius yang berpotensi mengguncang ribuan pekerja dan industri di tanah kelahirannya. Perusahaan secara terbuka menyatakan bahwa struktur biaya produksi kendaraan di Jerman kini jauh dari kompetitif jika dibandingkan dengan standar global, sebuah kondisi yang memicu ancaman nyata penutupan dua fasilitas produksi vital di Negeri Panzer tersebut.
Penyebab utama dari merosotnya daya saing ini, menurut Mercedes-Benz, adalah tingginya beban upah tenaga kerja. Meski demikian, sebagai bentuk komitmen terhadap basis produksi historis dan loyalitas terhadap Jerman, perusahaan menegaskan keinginannya untuk mempertahankan seluruh lini produksi serta lapangan kerja yang ada.

"Perusahaan bertekad untuk mempertahankan pabrik dan lapangan kerja di Jerman. Namun, untuk mewujudkan hal itu, kami membutuhkan kerangka kerja yang mampu meningkatkan produktivitas di Jerman," demikian pernyataan resmi Mercedes-Benz yang diterima melalui email oleh Reuters, seperti dikutip pada Jumat (25/9/2026).
Secara terpisah, Kepala Produksi Mercedes, Michael Schiebe, telah menyampaikan peringatan keras kepada seluruh karyawan yang berkumpul di pabrik Sindelfingen yang berusia 111 tahun pada Senin (21/9) lalu. Schiebe menegaskan bahwa penutupan pabrik bukanlah sekadar gertakan, melainkan konsekuensi yang tak terhindarkan jika efisiensi biaya produksi tidak segera ditingkatkan.
"Tujuan utama kami adalah menjaga semua lokasi kami di Jerman. Ini menuntut komitmen bersama terhadap langkah-langkah penghematan biaya," ujar Schiebe. "Jika kita gagal mencapai ini, kita terpaksa harus menutup satu pabrik perakitan Jerman dan satu pabrik komponen mesin Jerman."
Kendati demikian, hingga saat ini, Mercedes-Benz belum merinci pabrik mana saja yang terancam ditutup akibat tekanan daya saing produksi ini. Ancaman penutupan pabrik ini sontak memicu gelombang penolakan keras dari serikat buruh, yang menilai pernyataan tersebut sebagai taktik intimidasi belaka.
"Mengancam penutupan pabrik bukanlah cara yang tepat untuk membentuk masa depan. Siapa pun yang menggunakan ancaman semacam itu harus siap menghadapi resistensi yang kuat dari kami," tegas seorang juru bicara dewan pekerja umum Mercedes, badan perwakilan karyawan pusat perusahaan.
"Jika dewan manajemen berpikir dapat menekan karyawan dengan ultimatum ‘konsesi atau penutupan pabrik,’ jawaban kami adalah ‘itu mustahil terjadi selama kami masih memegang kendali’," tambahnya, menunjukkan keteguhan serikat pekerja dalam menghadapi tekanan dari manajemen. Situasi ini menyoroti ketegangan antara tuntutan efisiensi bisnis global dan perlindungan hak-hak pekerja di salah satu negara industri terkemuka dunia.
Editor: Rockdisc