EraNusantara – Hashim Djojohadikusumo, yang kini mengemban amanah sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia sering menjadi tempat curahan hati sang kakak, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pengakuan ini disampaikan Hashim dalam acara peluncuran Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) di Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2026), memberikan gambaran sekilas tentang pemikiran dan kegelisahan orang nomor satu di Tanah Air mengenai jalannya pemerintahan.
Menurut Hashim, inti dari keluh kesah Presiden Prabowo seringkali berkisar pada pelaksanaan berbagai program pemerintah. Meskipun program-program tersebut dirancang dengan tujuan yang mulia dan niat baik untuk kemajuan bangsa, implementasinya di lapangan kerap kali belum mencapai kesempurnaan yang diharapkan. Hashim memilih untuk tidak merinci program spesifik yang dimaksud, namun mengisyaratkan bahwa publik mungkin telah menyaksikan sendiri beberapa contoh di mana eksekusi program belum optimal.

Selain itu, Presiden Prabowo juga disebut Hashim sering menyoroti persoalan birokrasi di Indonesia. Sistem birokrasi yang ada dinilai masih belum bekerja secara maksimal, menjadi salah satu hambatan dalam mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Keluhan mengenai kompleksitas dan kurangnya optimalisasi birokrasi ini menjadi tema berulang dalam percakapan pribadi antara kedua bersaudara tersebut, mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi dalam menggerakkan roda pemerintahan.
Namun, di tengah sorotan terhadap tantangan birokrasi dan implementasi program, Hashim memberikan apresiasi khusus terhadap peluncuran SRUK. Ia menilai proyek ini sebagai pengecualian yang patut dibanggakan, menunjukkan bahwa birokrasi Indonesia mampu bekerja secara sukses dan berhasil. Proses penyusunan serta koordinasi antar kementerian dan lembaga dalam proyek SRUK berjalan sangat baik, membuktikan adanya potensi sinergi yang kuat dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) sendiri merupakan platform terpadu yang dirancang untuk menghubungkan berbagai kementerian, lembaga, dan registri internasional. Fungsi utamanya adalah mencatat setiap unit karbon yang ada di Indonesia, sehingga seluruh transaksi perdagangan karbon, baik di pasar domestik maupun internasional, dapat terintegrasi dan terpantau melalui wadah ini. Ini menandai langkah strategis Indonesia dalam pengelolaan pasar karbon yang transparan dan akuntabel.
Dalam konteks pasar karbon ini, Hashim juga mengungkapkan kabar baik bagi perekonomian nasional. Banyak investor dan pelaku bisnis dari mancanegara telah menyatakan ketertarikan mereka yang kuat untuk berinvestasi di pasar karbon Indonesia. Antusiasme ini menunjukkan potensi besar Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam ekonomi hijau global, sekaligus menarik aliran modal asing yang signifikan.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai asal negara investor-investor tersebut, adik Presiden Prabowo Subianto ini menyebutkan beberapa nama besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Belanda, dan Jepang. Potensi nilai investasi yang bisa masuk ke pasar karbon Indonesia dari berbagai pihak ini diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar. Angka fantastis ini menggarisbawahi peluang ekonomi yang sangat signifikan bagi Indonesia di masa depan, seiring dengan komitmen global terhadap keberlanjutan lingkungan.
Editor: Rockdisc