EraNusantara – Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas, dan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, bersama masyarakat, baru-baru ini merampungkan penanaman 1,5 juta bibit mangrove di Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan puncak dari komitmen PTFI dalam program rehabilitasi pesisir yang masif, sekaligus menjadi tonggak penting dalam mendukung Program Mangrove Nasional yang memiliki nilai strategis bagi ekonomi dan ekologi.
Dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co pada Rabu (8/7/2026), Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove adalah tanggung jawab kolektif. Ia menyambut baik inisiatif PTFI yang sejalan dengan agenda Kementerian Lingkungan Hidup untuk menanam 2 miliar pohon sebagai respons konkret terhadap krisis lingkungan global. Mangrove, lanjut Jumhur, memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir, berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang efektif, dan secara langsung menopang mata pencarian masyarakat lokal. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas harus terus diperkuat demi percepatan pemulihan lingkungan. PTFI sendiri telah merehabilitasi hampir 500 hektare mangrove di NTB dan menargetkan rehabilitasi 12.000 hektare di seluruh Indonesia, khususnya di Papua.

Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, menjelaskan bahwa total area penanaman mangrove di NTB mencapai 484 hektare, mencakup 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur. Proyek ambisius ini, yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025 dan 2026, berhasil menanam 1,5 juta bibit mangrove. Program ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani pada tahun 2023 antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan PTFI. Ini adalah wujud komitmen PTFI untuk mendukung restorasi mangrove nasional di luar wilayah operasional utamanya di Papua, dengan target awal 2.000 hektare. Penentuan lokasi penanaman dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang kemudian melalui proses verifikasi ketat oleh tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), memastikan efektivitas dan keberlanjutan program.
Secara nasional, PTFI telah mengidentifikasi lokasi terverifikasi untuk rehabilitasi mangrove seluas 834 hektare di luar Papua. Dari jumlah tersebut, 666 hektare telah berhasil ditanami dengan total dua juta bibit mangrove yang tersebar di delapan provinsi, meliputi NTB, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Ribuan masyarakat lokal turut aktif dalam setiap tahapan program ini. Khusus di wilayah Kabupaten Mimika, Papua, PTFI telah menorehkan capaian luar biasa dengan menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area seluas lebih dari 2.184 hektare, menunjukkan skala komitmen perusahaan terhadap lingkungan.
Tony Wenas menambahkan, keberhasilan penanaman 1,5 juta bibit mangrove di NTB tak lepas dari peran serta sekitar 1.500 masyarakat lokal. Mereka terlibat aktif mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Keterlibatan ini tidak hanya memastikan keberhasilan rehabilitasi kawasan pesisir, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian mangrove serta pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Muhammad Tisnaini, seorang anggota Komunitas Mangrove Sumbawa, mengungkapkan apresiasinya terhadap program ini. "Program penanaman mangrove ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Kami telah membina lima kelompok masyarakat yang kini mampu memproduksi bibit hingga melakukan penanaman secara mandiri," ujarnya. Lebih lanjut, Tisnaini menjelaskan dampak ekonomi langsung: "Keberadaan mangrove juga membantu nelayan karena menjadi habitat berbagai jenis ikan, sehingga mereka tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan. Kami berharap semakin banyak masyarakat ikut menjaga dan merawat mangrove agar manfaatnya terus dirasakan oleh generasi mendatang."
Kegiatan penanaman mangrove di Labuhan Alas ini menjadi simbol kuat kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat. Sinergi ini krusial dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai pelindung alami pesisir, habitat vital bagi keanekaragaman hayati, sekaligus penyerap karbon yang tak ternilai dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. PTFI berharap kolaborasi strategis ini dapat terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir serta menciptakan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, memastikan warisan alam yang lestari.
Editor: Rockdisc