EraNusantara – Siang itu, hiruk pikuk Jalan Walahar, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, mencapai puncaknya. Jarum jam menunjuk pukul 11.45 WIB, menandakan dimulainya ritual makan siang bagi ribuan karyawan kantoran yang memadati sentra kuliner. Di antara kepulan asap sate dan aroma gurih masakan berat, sebuah spanduk hijau bertuliskan "Es Cendol Durian Sari Suji 86" milik Muhammad Saripudin (40) berdiri mencolok, menawarkan kesegaran yang tak hanya memanjakan lidah, namun juga menghadirkan kemudahan transaksi di era digital.
Cendol suji berwarna hijau alami, berpadu dengan es kristal, gula merah kental, dan santan gurih, seolah menjadi magnet di tengah terik ibu kota. Antrean pembeli mulai terbentuk, dan tak sedikit yang langsung sigap dengan ponsel mereka. "Bang, Es Cendol Nangka satu, bayar pakai QRIS ya," ucap seorang pembeli, tangannya cekatan mengarahkan kamera ponsel ke kode QR yang tertempel rapi di etalase. Dalam hitungan detik, transaksi selesai, dan Saripudin pun menyerahkan segelas cendol dingin yang siap dinikmati.

Saripudin, yang baru dua minggu menjajakan dagangannya di lokasi strategis ini, menceritakan perjalanan panjang usahanya. "Baru banget di sini, sekitar dua minggu. Sebelumnya saya jualan di Kebayoran," ujarnya kepada eranusantara.co. Untuk lapak seluas ini, ia merogoh kocek Rp 6 juta per enam bulan, atau setara Rp 1 juta per bulan. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan warisan resep es cendol yang sudah turun-temurun. "Ini usaha orang tua saya. Saya sendiri mulai jualan dari tahun 2005 di Kebayoran,