EraNusantara – Kabar baik datang dari sektor industri otomotif nasional. Dua pabrik komponen otomotif raksasa asal Jepang, PT JAI di Pasuruan dan PT SAI di Mojokerto, yang merupakan bagian integral dari Grup Yazaki, dilaporkan nyaris memindahkan sebagian besar lini produksinya ke Vietnam. Namun, berkat dialog intensif antara manajemen perusahaan dan serikat pekerja, rencana relokasi besar-besaran tersebut berhasil dicegah, menjaga ribuan potensi pekerjaan tetap di Indonesia.
Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, mengungkapkan bahwa semula kedua produsen komponen tersebut memiliki niat untuk merelokasi sekitar 50% dari total lini produksi mereka. Ancaman hengkangnya sebagian besar operasional ini tentu menjadi perhatian serius bagi iklim investasi dan ketenagakerjaan di Tanah Air.

"Yang rencananya besar-besaran, hanya 50% enggak jadi. Hanya 3 sampai 5 line saja, line produksi yang dipindahkan ke Vietnam," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers daring yang digelar akhir pekan lalu, seperti dilansir eranusantara.co. Penekanan rencana relokasi ini menjadi bukti nyata kekuatan negosiasi dan pentingnya komunikasi dua arah antara pihak perusahaan dan perwakilan pekerja.
Menanggapi kekhawatiran akan potensi pengurangan tenaga kerja, Said Iqbal menegaskan bahwa tidak akan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Menurutnya, jika terjadi perampingan jumlah karyawan hingga tahun 2030, hal tersebut akan berlangsung secara alamiah. "Sampai tahun 2030 kalaulah terjadi perampingan jumlah karyawan sampai tahun 2030, itu lebih, apa namanya, secara alamiah. Yaitu karyawan-karyawan kontrak yang habis kontraknya, maka mereka tidak memperpanjang kontraknya," jelasnya.
Namun, ia menambahkan, prospek pasar tetap menjadi penentu. Apabila permintaan pasar meningkat, terutama dari grup Toyota yang merupakan salah satu konsumen utama, serta perusahaan mobil lainnya, maka perpanjangan kontrak karyawan bisa saja tetap dilakukan. "Tetapi bila ada permintaan pasar yang meningkat, terutama di grup Toyota, yang nomor satu biasanya grup Toyota dan perusahaan-perusahaan mobil lainnya, maka bisa saja perpanjangan karyawan kontrak tetap dilakukan," imbuhnya. Said memperkirakan, pengurangan karyawan secara alamiah ini mungkin berkisar antara 20% hingga 30% hingga tahun 2030, sebuah angka yang jauh lebih rendah dibandingkan potensi dampak jika relokasi besar-besaran terjadi. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga dialog sosial dalam industri untuk stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan.
Editor: Rockdisc