EraNusantara – Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mendapati pemandangan yang memicu kemarahannya saat meninjau program strategis Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (27/2). Kunjungan yang seharusnya menjadi momentum apresiasi terhadap pembangunan infrastruktur vital, justru berujung pada teguran keras kepada kontraktor pelaksana, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, terkait kualitas bangunan yang dinilai jauh dari standar kelayakan.
Trenggono, dengan nada tegas, menyoroti sejumlah fasilitas yang telah dibangun, termasuk gudang beku portabel. Ia secara langsung menunjuk pada kondisi lantai yang tidak rata dan pengerjaan yang terkesan asal-asalan, mengindikasikan kurangnya perhatian terhadap detail dan kualitas. "Mana Adhi Karya? Kamu Adhi Karya BUMN ya? Kamu bikin bangunan kayak gini, bagus nggak bangunan ini? Coba kamu bikinnya yang bener dong. Masa bangunan kayak gini, yang bener aja," hardik Trenggono, sebagaimana dilansir eranusantara.co, menunjukkan kekecewaan mendalamnya.

Kemarahan Menteri tidak berhenti di situ. Ia juga mempertanyakan integritas pelaksanaan proyek, setelah menemukan indikasi bahwa pekerjaan tidak sepenuhnya dikerjakan oleh kontraktor yang ditunjuk, melainkan melibatkan masyarakat setempat. "Kamu yang ngerjain apa bukan? Kenapa (yang mengerjakan) masyarakat? Saya kan kasih kontrak ke kamu!" tegasnya, menunjukkan kekecewaan atas dugaan subkontrak yang tidak sesuai prosedur dan berpotensi mengurangi akuntabilitas.
Program Kampung Nelayan Merah Putih sendiri merupakan inisiatif vital Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dirancang untuk mentransformasi desa-desa pesisir. Tujuannya mulia: meningkatkan produktivitas, kualitas hidup masyarakat, serta mengintegrasikan produk perikanan agar berdaya saing global. Dengan target ambisius seperti peningkatan produksi perikanan hingga 800 ton per tahun per lokasi, penyerapan 700 tenaga kerja, dan peningkatan nilai ekonomi kawasan hingga Rp 29,2 miliar per tahun, kualitas pembangunan infrastruktur menjadi kunci utama keberhasilan program ini. KKP menargetkan pembangunan 100 KNMP di berbagai wilayah Indonesia pada tahun 2025.
Desa Ekas Buana, dengan potensi perikanan melimpah seperti tongkol, cakalang, kembung, dan udang, serta mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan (854 dari 1.226 KK dengan 396 unit kapal aktif), adalah lokasi strategis untuk implementasi KNMP. Berbagai fasilitas penunjang telah direncanakan dan dibangun di sini, mulai dari gudang beku portabel, pabrik es portabel, shelter pendaratan ikan, gerbang gapura, docking kapal, kios perbekalan, bengkel nelayan, balai nelayan, saluran dan jalan lingkungan, tangga pendaratan, tambatan perahu, kantor pengelola, mushola, hingga kios kuliner dan pemasaran ikan. KKP juga menyalurkan bantuan berupa 10 unit mesin kapal, 1.620 unit alat tangkap ikan, 1 unit mobil berpendingin, serta 50 cool box untuk mendukung kegiatan nelayan di kawasan tersebut.
Menyadari besarnya potensi dan investasi yang ditanamkan demi kesejahteraan nelayan, Trenggono menekankan pentingnya perbaikan segera. "Ya tentu ada beberapa pekerjaan yang menurut pandangan saya belum baik. Saya sudah minta kepada kontraktor untuk dikoreksi dalam waktu yang secepatnya. Supaya nanti dalam pelaksanaan implementasinya bisa lebih baik," pungkasnya kepada awak media, menegaskan bahwa fasilitas ini harus segera berfungsi optimal dan memenuhi standar yang telah ditetapkan demi tercapainya tujuan mulia program KNMP.
Editor: Rockdisc