Eranusantara.co – Pemerintah tengah menyiapkan langkah besar dalam mengubah wajah kebijakan bantuan sosial di Indonesia. Skema penyaluran subsidi yang selama ini mayoritas diberikan dalam bentuk barang atau komoditas, rencananya akan dialihkan menjadi bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat yang berhak menerima.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa transformasi kebijakan ini tidak akan dilakukan secara mendadak. Menurutnya, peralihan dari subsidi barang ke bantuan tunai akan dilakukan melalui proses yang sangat hati-hati dan dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat.

"Nanti, sambil berjalan bertahap, kan. Semua kan berjalan bertahap," ujar Luhut saat memberikan keterangan kepada awak media di sela-sela acara ISF Forum di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Langkah strategis ini diproyeksikan akan mulai terlihat hasilnya dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan. Perubahan fundamental ini bertujuan untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak langsung pada daya beli masyarakat. Selama ini, subsidi dalam bentuk barang seringkali dinilai kurang efisien karena kendala distribusi dan potensi ketidaktepatan sasaran di lapangan.
Namun, sebelum skema tunai ini benar-benar diterapkan secara luas, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang cukup krusial. Luhut menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah fokus melakukan pemadanan data secara masif. Proses ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga untuk menyinkronkan basis data penerima bantuan.
Tujuan utama dari pemadanan data ini adalah untuk menyusun daftar penerima bantuan sosial (bansos) yang baru dan lebih akurat. Dengan data yang valid, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dari kas negara benar-benar sampai ke tangan individu yang membutuhkan, bukan sekadar dalam bentuk barang yang distribusinya sulit dikontrol.
Luhut juga menegaskan bahwa rencana besar ini bukan sekadar wacana di tingkat teknis, melainkan sudah dilaporkan secara resmi kepada Presiden Prabowo Subianto. Meskipun ia tidak merinci secara mendalam bagaimana respons langsung dari Presiden terkait kebijakan ini, Luhut memberikan sinyal kuat bahwa arah kebijakan ekonomi ke depan akan lebih berfokus pada penguatan ekonomi individu.
"Ini kan baru bansos. Nanti ke depan, kita ini dalam over time, mungkin dalam 1-2 tahun ke depan, subsidi itu akan kita, saya sudah lapor Presiden, tidak lagi pada barang. Langsung pada manusia, jadi cash," tegas Luhut dalam konferensi pers sebelumnya di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat.
Perubahan paradigma dari "subsidi barang" menjadi "subsidi manusia" ini diharapkan dapat menciptakan efisiensi anggaran negara yang lebih baik. Dengan memberikan uang tunai, masyarakat memiliki fleksibilitas lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka sesuai dengan prioritas masing-masing, yang pada akhirnya diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput secara lebih efektif. Melansir laporan dari eranusantara.co, transisi ini menjadi salah satu agenda penting dalam penguatan ketahanan ekonomi nasional di masa mendatang.