Eranusantara.co – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan strategi komprehensif untuk memacu pertumbuhan ekonomi hingga mencapai target 6% pada tahun 2027. Optimisme tinggi disuarakan oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, yang meyakini bahwa target ambisius ini dapat tercapai jika seluruh instrumen kebijakan dijalankan secara optimal dan terpadu. Pernyataan ini disampaikan Dradjad dalam sebuah kesempatan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, baru-baru ini.
Dradjad menjelaskan bahwa upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan ini akan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan. Bukan hanya stimulus fiskal, namun juga standarisasi dan statistik, semuanya akan diintegrasikan untuk mendorong laju perekonomian nasional. "Kita akan menggunakan berbagai instrumen, baik itu instrumen stimulus, instrumen standarisasi, instrumen statistik, semuanya kita pakai, kita manfaatkan untuk mendorong pertumbuhan supaya bisa tahun 2027 target 6 persen tercapai, mudah-mudahan bisa lebih," tegas Dradjad.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah mengidentifikasi dan mengurai berbagai hambatan atau bottlenecks yang selama ini menghambat sektor swasta untuk berinvestasi dan mengembangkan operasional bisnisnya. Dradjad membeberkan bahwa masalah perizinan yang berbelit-belit serta ketidaksinkronan kebijakan antar kementerian dan lembaga menjadi perhatian serius yang harus segera diatasi. Dengan menghilangkan rintangan-rintangan ini, diharapkan iklim investasi akan semakin kondusif dan menarik bagi pelaku usaha.
Selain itu, pemerintah juga telah mengidentifikasi sektor-sektor strategis yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pariwisata disebut sebagai salah satu sektor kunci yang memiliki daya ungkit besar, mengingat kekayaan alam dan budaya Indonesia. Tak hanya itu, industri pengolahan juga menjadi prioritas untuk terus didorong, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penciptaan lapangan kerja. "Sektor-sektornya juga sudah kita identifikasikan. Tadi saya sudah spesifik menyebutkan pariwisata, itu salah satu yang bisa menjadi sumber. Kemudian industri pengolahan itu juga bisa jadi salah satu sumber pertumbuhan," jelas Dradjad.
Tak berhenti pada sektor formal, pemerintah juga membidik pemberdayaan ekonomi masyarakat kelompok bawah sebagai motor penggerak pertumbuhan inklusif. Melalui penyaluran kredit murah yang disertai pendampingan produksi dan pelatihan, diharapkan masyarakat di desil-desil rendah dan menengah dapat meningkatkan kesejahteraan hidup secara mandiri. Dradjad mencontohkan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi akar rumput melalui kelompok usaha mikro yang telah melahirkan banyak kisah sukses di berbagai daerah. Pendekatan ini tidak hanya memberikan akses modal awal, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan jaringan.
"Salah satunya adalah tugas saya itu mendorong ekonomi rakyat di desil-desil rendah dan menengah. Jadi masyarakat yang agak kurang beruntung, itu kita dorong bukan hanya dengan kredit murah saja, tapi kita tambah dengan pemberdayaan dan juga kita tambah dengan usaha kelompok," papar Dradjad. Ia menambahkan bahwa dorongan terhadap pertumbuhan di segmen masyarakat ini akan menjadi fokus utama Kemenko Perekonomian, mengingat jumlahnya yang mencapai puluhan juta jiwa.
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga menjadi perhatian serius pemerintah untuk menarik minat investasi yang lebih luas, baik dari dalam maupun luar negeri. Dradjad menyebut bahwa pihaknya telah mengantongi berbagai hambatan yang ada dalam pengembangan KEK dan berkomitmen untuk menyelesaikannya. Dengan koordinasi lintas sektor, penyelarasan kebijakan antara pusat dan daerah, serta sinergi kuat antara peran negara dan sektor swasta, pemerintah optimis seluruh target pembangunan yang tertuang dalam "asta cita" dapat terwujud.
Dradjad mengakhiri pernyataannya dengan nada optimis yang tinggi. "Rasanya sih kalau melihat apa yang sudah kita siapkan, kalau kita kerja keras, kerja cepat, dan kerja cerdas, itu insyaallah mungkin malah bisa sedikit lebih dari 6%," pungkasnya. Keyakinan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mencapai target, tetapi juga berupaya melampauinya demi kemajuan ekonomi bangsa.