Eranusantara.co – Dunia ekonomi Asia tengah menyaksikan fenomena luar biasa dari Vietnam. Negara ini seolah sedang berlari kencang menuju puncak kejayaan, mengukuhkan posisinya sebagai calon kuat "Macan Asia Baru". Jika menengok ke belakang, tepatnya pada September 2016, majalah Forbes sudah memprediksi potensi besar Vietnam. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Vietnam sudah menyentuh angka 6,68%, melampaui Indonesia yang berada di angka 4,94%.
Apa yang membuat Vietnam begitu spesial? Kunci utamanya terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) dan investasi besar-besaran pada sektor pendidikan. Sejak lama, Vietnam telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang sangat signifikan, mencapai sekitar 6,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang hanya mengalokasikan sekitar 3,3% PDB untuk sektor yang sama.

Investasi pada pendidikan ini membuahkan hasil yang nyata. Kemampuan siswa Vietnam dalam bidang matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara konsisten mengungguli negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Dampaknya sangat terasa pada sektor industri; Vietnam memiliki tenaga kerja terampil yang mampu mengoperasikan teknologi manufaktur paling mutakhir. Hal ini menjadikan Vietnam magnet bagi investasi asing langsung (FDI) yang membawa teknologi tinggi ke tanah mereka.
Keunggulan Vietnam semakin terlihat dalam Global Innovation Index (GII). Pada tahun 2026, Vietnam diprediksi menempati peringkat 43 dunia, jauh melampaui Indonesia yang berada di peringkat 55. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan Vietnam dalam bertransformasi menuju ekonomi berbasis inovasi yang digerakkan oleh riset dan pengembangan (Research and Development/R&D). Mereka berhasil membangun koneksi kuat antara inovasi domestik dengan rantai pasok global, mulai dari perdagangan teknologi tinggi hingga ekosistem startup.
Secara statistik, pertumbuhan ekonomi Vietnam menunjukkan tren yang sangat agresif. Pada kuartal ketiga tahun 2026, pertumbuhan mereka bahkan mencapai angka fantastis sebesar 9,95%. Sektor manufaktur menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 51,57% terhadap PDB. Hal ini sangat kontras dengan Indonesia yang hingga kini masih terjebak dalam "jebakan pertumbuhan 5%" (5% growth trap).
Belajar dari kesuksesan Vietnam, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Pertama, Indonesia perlu memperkuat sektor pendidikan, khususnya pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Kedua, pemerintah perlu mendorong belanja R&D agar rasio terhadap PDB meningkat signifikan. Ketiga, pengembangan kawasan industri terintegrasi harus dipercepat. Sebagai perbandingan, Vietnam memiliki luas kawasan industri terintegrasi mencapai dua juta hektar, sementara Indonesia baru memiliki sekitar 24 ribu hektar.
Terakhir, Indonesia harus mampu menciptakan keterkaitan yang erat antara dunia pendidikan tinggi dengan industri manufaktur nasional. Dengan memperkuat kapasitas inovasi dan kualitas tenaga kerja, Indonesia memiliki peluang untuk keluar dari zona nyaman dan mulai mengaum layaknya macan ekonomi di kawasan Asia. Pilihan ada di tangan kita: menjadi penonton atau ikut berlari mengejar ketertinggalan.