EraNusantara – Sebuah angin segar berhembus kencang di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan perubahan drastis dalam pandangan Presiden Prabowo Subianto. Institusi yang sebelumnya terancam dibubarkan dan digantikan oleh entitas swasta asal Swiss, Societe Generale de Surveilance (SGS) – sebuah kebijakan yang mengingatkan pada era Orde Baru – kini justru menuai pujian tinggi dari Kepala Negara.
Purbaya menceritakan momen krusial tersebut saat melantik pejabat baru di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (10/3/2026). Ia mengaku terkejut dengan perubahan sikap Presiden Prabowo dalam rapat di Istana Negara beberapa minggu lalu. "Biasanya, beliau selalu berujar ‘Bea Cukai bubarkan, ganti SGS’," kenang Purbaya, menggambarkan kekhawatiran yang kerap menyelimuti. Namun, kali ini, nada Presiden berbeda. "Kemarin sudah beda, tadinya saya berpikir kita harus gantikan Bea Cukai dengan SGS, tapi ternyata ada perbaikan. Dia bilang gini ‘saya lihat ada perbaikan di sana dan saya yakin kita bisa memperbaiki Bea Cukai sehingga tidak diberikan ke SGS’," ujar Purbaya menirukan ucapan Prabowo sambil mengacungkan jempol, sebuah isyarat pengakuan atas progres yang dicapai.

Perubahan pandangan ini, menurut Purbaya, memberikan suntikan kepercayaan diri yang luar biasa bagi dirinya dan jajaran Kementerian Keuangan. "Itu saya biasanya kalau rapat ke Istana, kalau mereka mulai ngomong Bea Cukai sama Pajak, gua lemes aja," ungkapnya jujur, menggambarkan tekanan yang kerap dirasakan. Kini, ia merasa lebih tegak menghadapi Kepala Negara dan para menteri lainnya saat membahas kinerja DJBC dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). "Itu penghargaan yang luar biasa, kita belum sampai tetapi sudah dilihat ada kemajuannya. Itu karena kerja keras Pak Djaka (Dirjen Bea Cukai) dan kawan-kawan," imbuhnya, mengapresiasi dedikasi tim Bea Cukai.
Tak hanya Bea Cukai, pujian serupa juga disematkan kepada para pegawai DJP yang kini berada di bawah komando Dirjen Pajak Bimo Wijayanto. Presiden Prabowo disebut merasa sangat percaya diri bahwa penerimaan negara dapat terus didongkrak, terutama setelah setoran pajak pada periode Januari-Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 30%. "Pajak kita saya pikir tidak bisa perbaiki, ternyata setelah digebrak-gebrak, Januari dan Februari naiknya 30%," kutip Purbaya, mengulang ucapan Presiden di hadapan para pemimpin di Indonesia. Ini, lanjutnya, adalah bukti nyata dari kerja sama dan gerak bareng seluruh elemen pemerintah.
Dengan pengakuan langsung dari pucuk pimpinan negara ini, harapan akan reformasi dan peningkatan kinerja di dua institusi vital penerimaan negara, Bea Cukai dan Pajak, semakin menguat. Ini menandai babak baru dalam upaya pemerintah untuk membangun birokrasi yang lebih bersih, efisien, dan berintegritas, sebagaimana dilaporkan oleh eranusantara.co.
Editor: Rockdisc