EraNusantara – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video yang menampilkan praktik tak lazim di kalangan petani cabai. Alih-alih menggunakan pupuk konvensional, seorang petani terekam memanfaatkan obat-obatan manusia, seperti paracetamol dan vitamin B complex, untuk menyuburkan tanamannya. Fenomena ini sontak memicu beragam reaksi, terutama setelah sang petani mengaitkannya dengan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang disebut-sebut memicu kenaikan harga sarana produksi pertanian. Kementerian Pertanian (Kementan) pun tak tinggal diam, segera memberikan tanggapan resmi terkait metode budidaya yang kontroversial ini.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa penggunaan obat-obatan seperti paracetamol dan vitamin B complex untuk tanaman cabai sama sekali tidak direkomendasikan dalam praktik budidaya di Indonesia. Menurut Agung, praktik semacam ini kemungkinan besar hanya didasari oleh pengalaman empiris pribadi atau informasi yang beredar di media sosial, tanpa dukungan bukti ilmiah yang kuat.

Agung menjelaskan lebih lanjut, "Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah memadai yang secara konsisten menunjukkan bahwa paracetamol dapat meningkatkan produktivitas cabai secara aman, ekonomis, dan berkelanjutan di lapangan. Oleh karena itu, praktik ini tidak dapat dijadikan acuan budidaya yang direkomendasikan secara resmi." Kementan secara tegas mendorong para petani untuk selalu menggunakan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang telah terdaftar, memiliki dasar ilmiah yang kuat, serta izin edar yang sah untuk sektor pertanian. Obat-obatan yang diperuntukkan bagi manusia, seperti paracetamol dan vitamin B kompleks, belum memiliki rekomendasi resmi untuk aplikasi pada tanaman.
Menanggapi klaim petani yang mengaitkan praktik ini dengan pelemahan rupiah, Agung tidak menampik bahwa fluktuasi nilai tukar memang dapat memengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida yang diimpor. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah terus berupaya keras untuk menjaga pasokan serta keterjangkauan sarana produksi pertanian bagi para petani di seluruh Indonesia, seperti dikutip dari eranusantara.co.
Berbagai langkah strategis telah dan terus dilakukan pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian. Pertama, pemerintah memastikan distribusi pupuk bersubsidi dan pupuk komersial berjalan lancar sesuai kebutuhan petani. Kedua, mendorong penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, serta penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien guna menekan ketergantungan terhadap input impor. Ketiga, menggalakkan penggunaan pestisida dan pupuk yang telah terdaftar sesuai rekomendasi teknis untuk efektivitas dan efisiensi maksimal. Keempat, melakukan pendampingan budidaya secara intensif melalui penyuluh pertanian, agar petani dapat mengakses teknologi yang tepat dan berbasis hasil penelitian terkini.
Dalam video yang sempat viral di media sosial, terlihat jelas seorang petani menunjukkan sekantong plastik vitamin B complex dan sekotak paracetamol yang digunakannya untuk perkebunan cabai. Dengan keyakinan penuh, ia menyatakan bahwa metode ‘alternatif’ ini berhasil membuat tanamannya tumbuh subur menghijau, sembari mengeluhkan dampak pelemahan rupiah yang membuat harga pupuk melambung. "Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss," ujarnya dalam video tersebut, memperlihatkan hamparan kebun cabai yang tampak sehat.
Editor: Rockdisc