Eranusantara.co – Kabar kurang sedap datang bagi para konsumen rumah tangga di seluruh Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa tren harga beras masih terus merangkak naik pada periode September 2026. Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan merambat dari hulu ke hilir, mulai dari tingkat penggilingan, pedagang grosir, hingga sampai ke tangan konsumen akhir di pasar eceran.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa dinamika harga beras menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan mengalami kenaikan sebesar 0,81 persen jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2026. Namun, jika ditarik perbandingan dalam skala tahunan (year on year), lonjakan harganya jauh lebih terasa, yakni mencapai angka 6,04 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pusat BPS, Jakarta, pada Kamis (1/10/2026), Ateng menjelaskan bahwa fluktuasi harga ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor kualitas beras yang beredar di pasar. Jika dibedah lebih mendalam berdasarkan jenis kualitasnya, beras premium menjadi komoditas yang paling merasakan tekanan kenaikan harga yang ekstrem.
"Jika kita pilah berdasarkan kualitasnya di tingkat penggilingan, beras premium mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 0,81 persen. Namun, yang paling mencolok adalah kenaikan tahunannya yang melonjak hingga 10,52 persen," ujar Ateng dalam keterangannya. Angka ini menunjukkan bahwa konsumen yang terbiasa mengonsumsi beras kualitas tinggi harus merogoh kocek jauh lebih dalam dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, beras kategori medium juga tidak luput dari tren kenaikan ini. Meskipun tidak sefantastis beras premium, harga beras medium di tingkat penggilingan naik sebesar 0,87 persen secara bulanan. Secara tahunan, kenaikan harga beras medium tercatat berada di angka 4,72 persen. Hal ini menandakan bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat, baik yang mengonsumsi beras kualitas atas maupun menengah, terdampak oleh kenaikan harga ini.
Efek domino dari kenaikan di tingkat penggilingan ini kemudian merambat ke rantai distribusi selanjutnya. BPS mencatat bahwa di tingkat grosir, terjadi inflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan dan 4,93 persen secara tahunan. Puncaknya, pada tingkat eceran atau pasar tradisional, harga beras mengalami inflasi sebesar 0,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan kenaikan tahunan mencapai 3,73 persen.
Ateng menegaskan bahwa angka-angka yang dipaparkan oleh BPS tersebut merupakan representasi harga rata-rata nasional. Data tersebut mencakup berbagai jenis kualitas beras yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sehingga mencerminkan kondisi riil daya beli masyarakat terhadap komoditas pangan pokok tersebut. Melalui data ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga di tengah ketidakpastian harga pangan.