Eranusantara.co – Pulau Dewata bersiap menjadi pusat perhatian dunia dalam waktu dekat. Bali tidak hanya akan menyambut wisatawan mancanegara, tetapi juga akan menjadi saksi berkumpulnya para pemegang modal raksasa dari berbagai belahan dunia. Melalui gelaran New Asia Forum (NAF) yang dijadwalkan berlangsung pada 3-4 Desember 2026, kawasan Asia diproyeksikan akan menyerap aliran dana investasi yang sangat masif.
Target yang dipasang dalam forum prestisius ini tidak main-main. NAF menargetkan perolehan investasi mencapai US$ 30 miliar atau setara dengan Rp 536,74 triliun. Angka fantastis ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, khususnya Indonesia, dalam satu dekade ke depan. Forum ini dirancang sebagai jembatan strategis yang mempertemukan pemilik modal global dengan berbagai peluang proyek yang menjanjikan.

Penyelenggaraan acara ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara, bekerja sama dengan Richard Attias & Associates. Misi utama dari NAF 2026 adalah memposisikan diri sebagai pintu masuk utama dunia menuju era "Asia Baru". Di sini, para investor, pembuat kebijakan, hingga mitra strategis akan duduk bersama untuk mengubah wacana menjadi proyek nyata yang berdampak luas.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa forum ini bertujuan untuk mendekatkan modal global jangka panjang dengan potensi ekonomi yang tersebar di Indonesia dan kawasan sekitarnya. Menurutnya, saat ini dinamika ekonomi dunia sedang mengalami pergeseran besar. Kawasan dengan konektivitas kuat dan ambisi teknologi tinggi kini menjadi primadona baru.
Data dari IMF memperkuat hal tersebut, di mana pada tahun 2025, wilayah Asia-Pasifik tercatat menyumbang hampir 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global. Meski demikian, Rosan mencatat bahwa aliran modal jangka panjang yang masuk ke kawasan ini masih belum optimal. NAF hadir untuk menutup celah tersebut dengan fokus pada kesiapan transaksi dan realisasi investasi yang konkret.
Dalam forum ini, para kepala negara, menteri, hingga CEO perusahaan global akan terlibat langsung. Tujuannya adalah mempercepat proses uji tuntas agar dapat segera berubah menjadi komitmen investasi yang ditandatangani secara resmi. Rosan juga menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia ingin menunjukkan eksistensinya di kancah internasional dengan penuh percaya diri dan semangat kolaborasi.
Richard Attias, Founder dan Chairman Richard Attias & Associates, menambahkan bahwa Asia kini berada di pusat siklus investasi terpenting dalam sejarah generasi kita. Asia tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan penentu ke mana arah modal dunia akan mengalir.
Adapun delapan sektor strategis yang akan menjadi fokus utama dalam perebutan investasi ini meliputi sumber daya strategis dan hilirisasi, energi dan ketenagalistrikan, mobilitas serta manufaktur tingkat lanjut, infrastruktur digital dan AI, pangan dan agribisnis, perdagangan dan konektivitas, pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.