EraNusantara – Sebuah gebrakan ambisius yang berpotensi mengubah lanskap ketahanan pangan nasional telah dimulai. Proyek hilirisasi ayam terintegrasi, yang mencakup seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir, secara resmi diluncurkan melalui acara Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I di enam lokasi strategis oleh Danantara pada Jumat (6/2). Inisiatif raksasa ini bukan sekadar tentang ayam; pemerintah memproyeksikan lonjakan produksi hingga 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur setiap tahun. Angka fantastis ini diharapkan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan protein bagi sekitar 82,9 juta penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus menjadi senjata ampuh dalam memerangi stunting dan kemiskinan di Indonesia.
Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menegaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar peningkatan produksi. "Ini adalah pembangunan ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi penuh, dari hulu hingga hilir," ujarnya. Kementerian Pertanian, lanjut Agung, berkomitmen penuh mendukung hilirisasi sebagai kunci pemerataan produksi antarwilayah, stabilisasi harga komoditas, dan jaminan pasokan daging serta telur ayam yang berkelanjutan, khususnya untuk mendukung keberlangsungan program MBG.

Mengutip pernyataan Agung yang diterima eranusantara.co pada Sabtu (7/2/2026), "Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat." Lebih dari itu, program ini digadang-gadang akan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, dengan estimasi penciptaan sekitar 1,46 juta lapangan kerja baru dan potensi peningkatan pendapatan bruto peternak hingga Rp 81,5 triliun per tahun. Meskipun Indonesia secara teknis telah mencapai swasembada daging dan telur ayam, pemerintah melihat urgensi untuk memperkuat struktur pasokan. Hal ini didorong oleh lonjakan permintaan signifikan dari program MBG, yang membutuhkan tambahan sekitar 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur setiap tahunnya.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa proyeksi produksi telur ayam nasional pada tahun 2025 mencapai 6,52 juta ton atau setara dengan 104,17 miliar butir, sementara produksi daging ayam diperkirakan mencapai 4,25 juta ton. Ekosistem yang dibangun dalam proyek hilirisasi ini sangat komprehensif. Agung menjelaskan, cakupannya meliputi penguatan sektor pembibitan ayam dari hulu (Grand Parent Stock/GPS, Parent Stock/PS, Final Stock/FS), pengembangan pakan yang mengoptimalkan bahan baku lokal, peningkatan standar kesehatan hewan, pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) modern beserta fasilitas rantai dingin (cold chain), pengolahan produk daging dan telur, hingga sistem logistik dan pemasaran yang efisien.
Untuk merealisasikan visi ini, pemerintah tidak main-main dalam hal pembiayaan. Dukungan investasi sekitar Rp 20 triliun disiapkan melalui Danantara. Tak hanya itu, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp 50 triliun juga dialokasikan khusus bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema inovatif Koperasi Desa Merah Putih. Gimoyo, Direktur Utama ID Food, menambahkan bahwa BUMN pangan akan memainkan peran krusial sebagai penyerap hasil produksi dari peternak rakyat, sekaligus menjaga stabilitas dan keseimbangan pasar. Implementasi awal proyek ini akan menyasar enam lokasi strategis: Malang (Jawa Timur), Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara (Gorontalo), Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), dan Lampung Selatan (Lampung), sebagai bagian dari target pengembangan nasional di 30 titik.
Percepatan hilirisasi ayam terintegrasi ini menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam membangun fondasi swasembada protein nasional yang kokoh, berkeadilan, dan berkelanjutan. Kunci keberhasilan proyek monumental ini terletak pada sinergi erat lintas kementerian, BUMN, pemerintah daerah, serta pelibatan aktif peternak rakyat. Kolaborasi ini diharapkan memastikan produksi, distribusi, dan aksesibilitas pangan bergizi dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Lebih dari sekadar pemenuhan protein, langkah strategis ini dipandang sebagai pilar utama untuk menjamin keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan taraf hidup peternak, dan pada akhirnya, membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul.
Editor: Rockdisc