Gawat! KSSK Ungkap ‘Awan Gelap’ Ekonomi Global Mengancam Awal 2026: Siapkah Indonesia Menghadapinya?
EraNusantara – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, telah mengeluarkan peringatan dini mengenai prospek ekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian tinggi memasuki awal tahun 2026. Volatilitas di pasar keuangan dunia bahkan sempat menunjukkan peningkatan signifikan, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan perang dagang yang tak kunjung mereda.

"Perekonomian dunia masih menghadapi tantangan dengan ketidakpastian yang meningkat," ungkap Purbaya dalam konferensi pers usai rapat berkala KSSK I 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (27/1/2026). Ia secara spesifik menyoroti friksi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China sebagai pemicu utama perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global, sebuah dinamika yang berpotensi menciptakan efek domino ke berbagai belahan dunia.
Menyikapi perkembangan ini, KSSK menegaskan komitmennya untuk terus memantau secara cermat dampaknya terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan domestik. Upaya mitigasi akan dilakukan secara terkoordinasi, tidak hanya di antara anggota KSSK tetapi juga dengan kementerian dan lembaga (K/L) terkait lainnya, demi menjaga resiliensi ekonomi nasional.
"KSSK akan terus mencermati dan melakukan assessment forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, sekaligus melakukan usaha mitigasi secara terkoordinasi baik antar lembaga anggota KSSK, maupun dengan K/L lain," jelas Purbaya, merujuk pada hasil rapat berkala KSSK pertama tahun 2026 yang digelar pada Jumat, 23 Januari 2026. Sebagai informasi, KSSK sendiri merupakan forum penting yang beranggotakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang secara kolektif bertanggung jawab menjaga stabilitas sistem keuangan negara.
Meski demikian, KSSK juga memberikan catatan positif. Hasil asesmen menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan domestik selama triwulan IV-2025 tetap terjaga dengan baik. Hal ini, menurut Purbaya, adalah buah dari sinergi dan koordinasi kebijakan yang kuat antar otoritas, memberikan fondasi yang relatif kokoh di tengah gejolak global yang membayangi. Kewaspadaan tetap menjadi kunci, mengingat dinamika ekonomi global yang sulit diprediksi.
Editor: Rockdisc