EraNusantara – Di penghujung tahun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggebrak panggung kebijakan perdagangan global dengan manuver tak terduga. Dalam sebuah keputusan yang diumumkan mendekati pergantian tahun, ia menunda kenaikan tarif impor untuk sejumlah produk furnitur selama setahun penuh. Bersamaan dengan itu, ancaman tarif super tinggi terhadap pasta asal Italia juga mereda drastis, menandakan dinamika perang dagang yang penuh liku di bawah kepemimpinan Trump. Keputusan ini, yang dilaporkan eranusantara.co pada Jumat (2/1/2026), mengundang analisis mendalam mengenai arah strategi ekonomi Washington ke depan.
Penundaan ini secara spesifik menyasar furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan rak kabinet kamar mandi. Trump, pada malam Tahun Baru, menandatangani keputusan yang mempertahankan tarif 25% yang telah berlaku sejak September lalu. Namun, ia menangguhkan implementasi tarif yang lebih tinggi, yaitu 30% untuk furnitur berlapis kain dan 50% untuk lemari dapur serta rak kabinet kamar mandi, yang seharusnya mulai berlaku pada 1 Januari. Penundaan ini didasari oleh klaim adanya proses perundingan dagang yang masih bergulir, sebuah strategi yang kerap digunakan Trump dalam upayanya menyeimbangkan neraca perdagangan dan mengatasi berbagai isu lain.

Pola kebijakan semacam ini bukanlah barang baru dalam era Trump. Ia memang dikenal gemar menggunakan tarif sebagai instrumen tawar-menawar, dengan pengumuman yang mendadak, diikuti oleh penundaan atau bahkan pembatalan dalam waktu singkat. Trump sendiri berulang kali menegaskan bahwa penerapan tarif pada produk furnitur esensial untuk memperkuat industri domestik Amerika Serikat sekaligus menjaga keamanan nasional.
Di sisi lain, gejolak serupa juga melanda sektor pangan, khususnya pasta asal Italia. AS sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif sangat tinggi, yang semula bisa mencapai 107%, terhadap produk pasta Italia. Ancaman ini berakar dari peninjauan antidumping rutin oleh Departemen Perdagangan AS, menyusul tuduhan bahwa produk pasta Italia dijual di pasar AS dengan harga di bawah nilai pasar, merugikan produsen lokal Amerika.
Namun, kabar baik datang. Departemen Perdagangan AS pada Rabu menyatakan bahwa berdasarkan hasil tinjauan terbaru, tarif untuk produsen pasta Italia akan diturunkan secara signifikan menjadi kisaran 2,26% hingga 13,89%. Perubahan signifikan ini diklaim terjadi setelah "sejumlah kekhawatiran berhasil diatasi." Keputusan final yang semula dijadwalkan pada 2 Januari, dengan opsi perpanjangan, kini diundur hingga 12 Maret.
Kelompok lobi pertanian Italia, Coldiretti dan asosiasi industri pangan Filiera Italia, menyambut baik perkembangan positif ini. Keduanya sebelumnya menentang keras rencana tarif awal, yang menurut mereka berpotensi melipatgandakan harga seporsi pasta bagi keluarga Amerika, membuka celah bagi produk tiruan bercita rasa Italia, dan secara fundamental merusak kualitas autentik label "Made in Italy." Mereka bahkan mendesak pemerintah Italia untuk campur tangan aktif dalam isu ini.
Mengingat nilai ekspor pasta Italia ke Amerika Serikat yang fantastis, mencapai €671 juta atau sekitar US$787 juta pada tahun 2024, kedua asosiasi tersebut menegaskan komitmen mereka untuk terus membela produk pasta premium Italia di pasar AS. Upaya ini termasuk melalui kampanye kuat di media internasional. Dinamika ini sekali lagi menggarisbawahi kompleksitas diplomasi ekonomi dan perang dagang di panggung global, di mana keputusan mendadak dapat mengubah lanskap perdagangan dalam sekejap.
Editor: Rockdisc