EraNusantara – Kabar baik datang dari dunia investasi! Indonesia baru saja mengantongi komitmen investasi fantastis senilai Rp 36,4 triliun dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa investasi ini merupakan hasil dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk 16 proyek strategis.
Airlangga menjelaskan, kesepakatan ini terjalin dalam pertemuan dengan perwakilan Partai Komunis China dari Provinsi Chaozhou. Proyek-proyek ini terkait erat dengan program Two Countries Twin Parks (TCTP), sebuah inisiatif bilateral yang bertujuan untuk mempererat kerja sama ekonomi antara kedua negara. Investasi sebesar Rp 36,4 triliun ini menjadi bukti nyata komitmen China untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Informasi ini didapatkan eranusantara.co dari sumber terpercaya.

Lebih lanjut, Airlangga merinci bahwa sebagian besar proyek akan berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah. Proyek-proyek tersebut meliputi pembangunan pabrik baja berkapasitas 1 juta ton, fasilitas pengolahan daging dan produk kelautan, perdagangan nickel iron, serta pusat penelitian dan pengembangan (RnD) tekstil.
Selain itu, kerja sama juga mencakup komoditas batu bara, bahan baku tekstil, industri teh dan melati, serta direct sourcing produk pertanian seperti kelapa dan durian. Pemilihan KEK Industropolis Batang sebagai lokasi investasi bukan tanpa alasan. Kawasan ini menawarkan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal, kemudahan perizinan, serta daya tarik investasi yang tinggi.
Sebagai informasi tambahan, KEK Industropolis Batang memiliki luas total 28.886,7 hektare dan memiliki tiga fokus utama: industri dan pengolahan, logistik dan distribusi, serta pariwisata. Saat ini, sudah ada 27 tenant yang beroperasi di KEK Batang, dengan rincian 7 tenant telah beroperasi, 7 dalam masa konstruksi, dan 13 dalam tahap persiapan konstruksi.
Sebelumnya, KEK Industropolis Batang telah menarik investasi senilai Rp 17,95 triliun dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan, Chili, Jepang, Taiwan, dan China. Sektor industri yang terwakili pun beragam, mulai dari solar panel, kaca, wood pellet, alas kaki, PVC, grinding ball, keramik, gas industri, hingga alat kesehatan.
Keberadaan KEK Industropolis Batang telah memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Dari 7 tenant yang telah beroperasi, total tenaga kerja yang terserap mencapai 7.008 orang, dengan 80% merupakan tenaga kerja lokal dari Kabupaten Batang. Diharapkan, dengan status KEK, KITB dapat menarik tambahan investasi senilai Rp75,8 triliun serta menciptakan 58.145 lapangan kerja baru. Ketika beroperasi penuh, kawasan ini diproyeksikan dapat menyerap hingga 250.000 tenaga kerja.
Editor: Rockdisc