Eranusantara.co – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mencatatkan lonjakan signifikan dalam realisasi pembayaran subsidi dan kompensasi energi. Hingga periode akhir September 2026, total dana yang telah dikucurkan untuk menopang sektor energi ini menyentuh angka fantastis, yakni sebesar Rp 376,8 triliun.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa realisasi pembayaran ini telah menyerap sekitar 84,3 persen dari total pagu anggaran yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika ditarik perbandingan tahun ke tahun, terjadi lonjakan sebesar 54,1 persen.

"Pada tahun lalu, total pembayaran yang dilakukan baru mencapai Rp 244,6 triliun. Namun, memasuki September tahun ini, kita sudah menyalurkan Rp 376,8 triliun," jelas Suahasil dalam konferensi pers bertajuk APBNKita yang digelar di Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).
Suahasil menjelaskan bahwa mekanisme pembayaran subsidi dan kompensasi ini dilakukan secara rutin setiap bulan. Sebagian besar alokasi dana tersebut dialokasikan untuk menjaga stabilitas operasional perusahaan-perusahaan negara, khususnya PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), yang menjadi garda terdepan dalam penyaluran energi ke masyarakat.
Menurutnya, meskipun angka pengeluaran negara terlihat membengkak, langkah ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan finansial badan usaha penyalur. Dengan arus kas yang lebih terjaga, perusahaan-perusahaan tersebut dapat menjalankan operasionalnya dengan lebih aman dan stabil tanpa terbebani oleh tunggakan biaya subsidi.
Lonjakan realisasi anggaran ini juga berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat terhadap barang-barang bersubsidi. Data menunjukkan adanya tren kenaikan permintaan pada berbagai sektor energi dan kebutuhan pokok lainnya.
Di sektor bahan bakar minyak (BBM), volume konsumsi tercatat mencapai 13.408,6 ribu kiloliter (KL), atau mengalami pertumbuhan sebesar 9,1 persen secara tahunan. Tren serupa juga terlihat pada penggunaan gas LPG yang mencapai realisasi 5.761 juta kg, naik tipis sebesar 2,2 persen.
Tak hanya energi fosil, sektor kelistrikan dan pertanian pun turut mengalami kenaikan. Jumlah pelanggan listrik tercatat tumbuh sebesar 2,1 persen. Sementara itu, di sektor pertanian, realisasi volume penyaluran pupuk melonjak cukup signifikan hingga 15,7 persen. Selain itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menjadi bantalan ekonomi masyarakat juga mengalami kenaikan sebesar 7,9 persen.
Kenaikan konsumsi ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih bergerak, namun di sisi lain, pemerintah harus ekstra hati-hati dalam mengelola postur APBN agar beban subsidi yang terus meningkat ini tetap terkendali dan tepat sasaran. Melansir laporan dari eranusantara.co, dinamika ini menjadi tantangan besar bagi fiskal Indonesia di sisa tahun anggaran 2026.