Close Menu
EraNusantaraEraNusantara
    What's Hot

    Rahasia Agar Pelanggan Balik Lagi ke Bisnis Anda

    04-10-2026 - 22.35

    Rahasia UMKM Tumbuh Pesat Raih Untung Besar

    04-10-2026 - 22.35

    Target Ekonomi 6 Persen Butuh Modal Jumbo

    04-10-2026 - 22.20
    Laman
    • Disklaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang
    Terbaru:
    • Rahasia Agar Pelanggan Balik Lagi ke Bisnis Anda
    • Rahasia UMKM Tumbuh Pesat Raih Untung Besar
    • Target Ekonomi 6 Persen Butuh Modal Jumbo
    • Terkuak 5 PO Bus Paling Banyak Melanggar
    • Bahaya Calo Rekrutmen ABK Perikanan
    • G20 Tegas Larang Pangan Jadi Senjata Politik
    • Rp 31 Triliun Siap Guyur Ekonomi Nasional
    • Pencabutan Izin Kapal Imbas Dugaan Perbudakan ABK
    • Panci Teflon Maxim Maspion Diskon Gila Transmart
    • Misteri Kekerasan di Kapal Maulana 23
    Minggu, 4 Oktober 2026
    EraNusantaraEraNusantara
    • Home
    • Ekonomi

      Rahasia Agar Pelanggan Balik Lagi ke Bisnis Anda

      04-10-2026 - 22.35

      Rahasia UMKM Tumbuh Pesat Raih Untung Besar

      04-10-2026 - 22.35

      Target Ekonomi 6 Persen Butuh Modal Jumbo

      04-10-2026 - 22.20

      Terkuak 5 PO Bus Paling Banyak Melanggar

      04-10-2026 - 22.06

      Bahaya Calo Rekrutmen ABK Perikanan

      04-10-2026 - 20.35
    EraNusantaraEraNusantara
    Home - Ekonomi - Nasib Perajin Tahu Tempe di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

    Nasib Perajin Tahu Tempe di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

    Ekonomi 03-10-2026 - 16.203 Mins Read
    Bagikan Facebook Telegram WhatsApp Copy Link
    Nasib Perajin Tahu Tempe di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

    Eranusantara.co – Keluhan mendalam datang dari para pelaku usaha mikro, khususnya perajin tahu dan tempe, seiring dengan meroketnya harga bahan baku utama mereka. Kedelai yang selama ini menjadi tulang punggung industri pangan rakyat tersebut mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp 9.500 per kilogram, kini para produsen harus merogoh kocek lebih dalam hingga mencapai angka Rp 11.600 per kilogram.

    Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha mereka, mengingat margin keuntungan yang semakin menipis. Menanggapi fenomena ini, Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan penjelasan mengenai akar permasalahan yang terjadi di lapangan. Menurut Plt Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Gunawan, salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga adalah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

    Nasib Perajin Tahu Tempe di Tengah Lonjakan Harga Kedelai
    Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

    Gunawan mengungkapkan bahwa produksi kedelai di dalam negeri saat ini belum mampu mengimbangi tingginya kebutuhan nasional. Keterbatasan stok domestik inilah yang akhirnya memberikan tekanan pada harga pasar. Sebagai langkah konkret untuk mengatasi persoalan jangka panjang, pemerintah melalui Kementan telah mengalokasikan bantuan benih kedelai untuk lahan seluas 50.000 hektare pada tahun ini. Langkah ini diharapkan menjadi stimulan bagi petani untuk menekan biaya produksi.

    Target ambisius pun dicanangkan. Dari lahan bantuan tersebut, pemerintah memproyeksikan produksi kedelai dapat mencapai 50.000 ton. Bahkan, jika dukungan sarana produksi seperti pupuk dan pestisida juga dioptimalkan, angka produksi diharapkan mampu menembus lebih dari 75 ribu ton.

    Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan klarifikasi mengenai kebijakan intervensi pasar. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya memiliki Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Kedelai. Namun, ia menegaskan bahwa program ini bukanlah bentuk subsidi otomatis yang akan turun setiap kali harga mengalami fluktuasi.

    "SPHP kedelai bukan subsidi yang diberikan secara otomatis setiap saat. Pelaksanaannya dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan harga, kondisi pasokan, serta ketentuan yang berlaku," ujar Hermawan.

    Pemerintah menggunakan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebagai parameter utama dalam melakukan intervensi. Berdasarkan Peraturan Bapanas Nomor 12 Tahun 2024, HAP untuk kedelai impor ditetapkan sebesar Rp 12.000 per kilogram di tingkat konsumen. Sementara itu, untuk kedelai lokal, HAP di tingkat produsen dipatok Rp 10.775 per kilogram dan di tingkat konsumen sebesar Rp 11.400 per kilogram.

    Berdasarkan data terbaru, Bapanas menilai harga kedelai secara umum masih dalam kategori terkendali. Di wilayah Jawa, yang merupakan sentra industri tahu dan tempe terbesar, harga rata-rata berada di angka Rp 11.623 per kilogram. Angka ini dinilai masih berada di bawah ambang batas HAP kedelai impor. Namun, tantangan berbeda ditemukan di wilayah Indonesia Timur, di mana harga rata-rata telah menyentuh Rp 12.097 per kilogram.

    Menghadapi tahun 2026, pemerintah berencana memperkuat mekanisme SPHP melalui Keputusan Menteri Koperasi. Aturan ini akan menjadi landasan hukum bagi penugasan Perum Bulog dalam melakukan distribusi. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau dinamika pasar agar intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran, tepat waktu, dan menjaga keberlanjutan usaha para perajin tahu dan tempe di seluruh pelosok negeri.

    Follow on Google News
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Kinanthi
    • Website

    penulis dan analis utama di EraNusantara. Ia berspesialisasi dalam pelaporan mendalam mengenai isu-isu investasi, kebijakan perdagangan, dan dinamika pasar keuangan serta bisnis di Indonesia

    Related Posts

    Rahasia Agar Pelanggan Balik Lagi ke Bisnis Anda

    Ekonomi 04-10-2026 - 22.35

    Rahasia UMKM Tumbuh Pesat Raih Untung Besar

    Ekonomi 04-10-2026 - 22.35

    Target Ekonomi 6 Persen Butuh Modal Jumbo

    Ekonomi 04-10-2026 - 22.20

    Terkuak 5 PO Bus Paling Banyak Melanggar

    Ekonomi 04-10-2026 - 22.06

    Bahaya Calo Rekrutmen ABK Perikanan

    Ekonomi 04-10-2026 - 20.35

    G20 Tegas Larang Pangan Jadi Senjata Politik

    Ekonomi 04-10-2026 - 20.20
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Fakta Mengejutkan di Balik Mudik Lebaran 2026: Jasa Raharja Gelontorkan Rp 11,2 Miliar Santunan! Apa Penyebab Utama Ratusan Nyawa Melayang Meski Angka Kecelakaan Turun Drastis?

    26-03-2026 - 05.0629 Views

    Bongkar Tuntas Coretax: Sistem Pajak Baru yang Mengguncang Dunia Konsultan! Kuasai Rahasianya dalam 4 Hari Intensif, Hindari Kerugian Klien dan Pastikan Bisnis Tetap Unggul!

    04-09-2026 - 05.0624 Views

    Operasi Senyap Bea Cukai Bongkar Jaringan Impor Ilegal Puluhan Miliar Rupiah! Menkeu Purbaya: Jangan Harap Lolos, Ini Baru Permulaan!

    23-06-2026 - 22.0623 Views
    Footer Logo - 48 Media Partners

    MEDIA PARTNERS

    bolasepak.co.id bolapedia.co.id tangerangsatu.co.id lahatsatu.com jp-news.id agroplus.co.id eranusantara.co suaramedia.id chapnews.id internationalmedia.co.id jabarpos.id lintaswarta.co.id bingkaiwarta.com belanegara.co fixmakassar.com infopali.co.id faktual.news 55tv.co.id wartakini.id

    MORE MEDIA PARTNERS → SWIPE TO EXPLORE

    cerita.co.id portalbatang.id madurapost.co.id redaksibengkulu.co.id mediaseruni.co.id kabartifa.id Haluannews.id Zonamerahnews.com thescreescore.com hustlerwords.com Lenterapos.com looksports.media porosinformasi.co.id sportszam.com politicanews.id
    deteksinews.co.id esportivonews.com morninroutine.com Diyetekno.com Faseberita.id Thetimeseg.com Gangberita.com pamartanusantara.co.id bangkaterkini.id malutpost.id abcmarathinews.com himnewz.com cianews.co.id okes.co.id
    EraNusantara
    • Home
    • Disklaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.