Eranusantara.co – Paradoks ekonomi tengah menyelimuti Brasil. Di satu sisi, pemerintah dengan bangga memamerkan deretan indikator makroekonomi yang menunjukkan tren positif. Namun di sisi lain, realitas pahit justru menyapa jutaan rakyatnya yang kini tengah berjuang keras hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Kesenjangan antara angka statistik di atas kertas dengan kondisi dapur masyarakat semakin lebar. Fenomena ini menciptakan ketegangan sosial yang nyata, terutama menjelang kontestasi politik mendatang. Bagi warga kelas pekerja, perbaikan ekonomi yang diklaim pemerintah terasa seperti fatamorgana yang tidak pernah menyentuh meja makan mereka.

Kleyton Zacarioto, seorang pekerja di sebuah toko daging di kawasan bersejarah Sao Paulo, menjadi potret nyata dari krisis ini. Ia mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan yang drastis dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kenaikan harga pangan yang tidak kunjung reda telah memukul daya beli masyarakat hingga ke titik nadir. "Seseorang dengan penghasilan upah minimum tidak memiliki peluang untuk memperbaiki nasib mereka," ungkap Zacarioto dengan nada getir, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.
Ketidakpuasan ini bukan sekadar keluhan personal. Hasil jajak pendapat terbaru dari lembaga Quaest pada September menunjukkan bahwa hampir separuh dari populasi Brasil merasa kondisi ekonomi mereka justru semakin memburuk dalam setahun terakhir. Angka ini sangat kontras dengan hanya 19% warga yang merasa ekonomi membaik. Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dicatat pemerintah belum mampu menetes hingga ke lapisan masyarakat bawah.
Dampaknya, kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva mulai terkikis. Banyak warga, termasuk Zacarioto, menyatakan enggan untuk memberikan dukungan kembali kepada Lula pada pemilu mendatang. Meski mengakui kinerja Lula di masa lalu, beban hidup saat ini membuat rakyat sulit memberikan apresiasi pada kebijakan pemerintah.
Analis politik Thomas Traumann menyebut fenomena ini sebagai jurang pemisah antara data statistik dan persepsi publik. Ia menyamakan situasi di Brasil dengan fenomena "vibecession", di mana secara teknis ekonomi mungkin terlihat stabil, namun sentimen konsumen tetap berada di zona resesi karena rasa tidak aman secara finansial.
Felipe Nunes, CEO lembaga survei Quaest, menambahkan bahwa pemilih tidak menilai ekonomi dari angka inflasi yang turun sedikit, melainkan dari kemampuan mereka membayar tagihan dan memenuhi kebutuhan dasar. Saat ini, Brasil menghadapi "badai sempurna": harga pangan yang masih tinggi akibat akumulasi inflasi pascapandemi, beban utang rumah tangga yang mencapai rekor 26,6% dari pendapatan, hingga maraknya pinjaman online berbunga tinggi.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena judi online yang menyedot miliaran real dari kantong rumah tangga, serta suku bunga acuan yang sempat menyentuh angka sangat tinggi. Meskipun bank sentral mulai menurunkan suku bunga secara bertahap, luka finansial di masyarakat sudah terlanjur dalam. Ekonomi Brasil mungkin sedang tumbuh, namun bagi rakyatnya, pertumbuhan itu terasa sangat jauh dari jangkauan.