Eranusantara.co – Kabar mengejutkan datang dari industri alas kaki tanah air. PT Sepatu Bata Tbk (BATA), merek yang sudah sangat melekat di ingatan kolektif masyarakat Indonesia, tengah mengalami perubahan besar di jajaran manajemennya. Amitav Nandy, yang menjabat sebagai Presiden Direktur, secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari posisi strategis tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen mengonfirmasi bahwa surat pengunduran diri Amitav telah diterima perusahaan pada 23 September 2026. Perusahaan menegaskan bahwa langkah ini bukanlah sebuah krisis internal, melainkan bagian dari strategi rotasi jabatan yang telah direncanakan di lingkup Bata Group secara global. Meski demikian, mundurnya sosok pemimpin tertinggi ini memicu tanda tanya besar di kalangan investor dan konsumen mengenai arah masa depan perusahaan.

Di tengah hiruk-pikuk perubahan manajemen ini, muncul sebuah fakta menarik yang sering kali disalahpahami oleh masyarakat luas. Banyak orang Indonesia yang menganggap bahwa Sepatu Bata adalah merek asli produk lokal karena saking kuatnya penetrasi pasar mereka di tanah air. Namun, kenyataannya, raksasa alas kaki ini memiliki akar sejarah yang jauh dari Indonesia.
Bata sebenarnya adalah perusahaan asal Republik Ceko dengan nama lengkap T&A Bata Shoe Company. Nama tersebut diambil dari para pendiri legendaris, yakni Tomáš, Anna, dan Antonín Baťa. Keluarga Baťa ini merupakan generasi kedelapan yang telah mendedikasikan hidup mereka dalam industri pembuatan sepatu selama berabad-abad. Perjalanan mereka dimulai pada tahun 1894 dengan sebuah pabrik kecil yang hanya mempekerjakan 10 orang pengrajin.
Berkat inovasi yang cepat, Bata menjadi pionir penggunaan mesin uap untuk produksi massal di Eropa pada tahun 1897. Keberhasilan mereka meledak saat mendapatkan kontrak besar untuk memproduksi 50.000 pasang sepatu bagi tentara Austro-Hongaria. Seiring berjalannya waktu, Bata bertransformasi menjadi produsen alas kaki terbesar di benua biru.
Jejak Bata di Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1931 melalui kerja sama impor di Tanjung Priok. Ekspansi besar-besaran dilakukan pada tahun 1937 saat Tomas Bata mendirikan pabrik di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, yang mulai beroperasi penuh pada 1940. Perusahaan ini kemudian melantai di bursa saham pada tahun 1982 dan terus memperkuat dominasinya, termasuk membangun pabrik besar di Purwakarta pada tahun 1994.
Kini, meski identitasnya sebagai merek global tetap terjaga, Bata Indonesia menghadapi tantangan yang tidak mudah. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai "sepatu sekolah" melalui kampanye Back to School, perusahaan kini mencoba merambah berbagai segmen melalui merek seperti Marie Claire, Weinbrenner, hingga North Star. Namun, dinamika pasar yang keras memaksa mereka melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk penutupan pabrik di Purwakarta pada tahun 2024 yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
Kini, dengan adanya rotasi kepemimpinan di tingkat direksi, publik menanti apakah langkah strategis baru ini akan mampu mengembalikan kejayaan Bata di pasar Indonesia yang semakin kompetitif.