Eranusantara.co – Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah ambisius untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pembangunan ekosistem peternakan yang terintegrasi secara menyeluruh. Proyek raksasa ini dirancang untuk mengelola rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir, guna menjamin ketersediaan stok ayam, telur, hingga susu bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utamanya adalah membangun kemandirian industri peternakan agar tidak lagi bergantung pada pasokan luar, sekaligus mendukung program strategis nasional.

Dalam tahap awal, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 2,2 triliun untuk membangun lima kawasan peternakan terpadu. Kawasan-kawasan ini akan tersebar di lima titik strategis, yakni Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Menariknya, total anggaran yang disiapkan untuk pengembangan ekosistem peternakan secara nasional mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 17 triliun.
"Pembangunan lima pabrik pakan, fasilitas pembibitan atau DOC, dan infrastruktur pendukung lainnya ditargetkan rampung tahun depan. Anggaran sebesar Rp 2,2 triliun untuk lima lokasi tersebut sudah ditandatangani oleh Presiden," ujar Amran dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).
Konsep yang diusung adalah integrasi holistik. Pemerintah tidak hanya membangun kandang, tetapi juga membangun pabrik pakan dan fasilitas pembibitan ayam (DOC) di lokasi yang berdekatan dengan sentra produksi bahan baku. Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan, pabrik pakan akan dibangun dekat dengan sentra jagung seperti di Bone dan Soppeng. Hal ini bertujuan untuk memangkas biaya logistik yang selama ini membengkak akibat pengiriman bahan baku antarwilayah yang terlalu jauh.
Selain sektor unggas, pemerintah juga memberikan perhatian serius pada pengembangan sapi perah. Langkah ini diambil untuk mendongkrak produksi susu nasional yang sangat krusial bagi pemenuhan gizi anak-anak. Integrasi ini juga diproyeksikan menjadi tulang punggung bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana hasil produksi peternakan lokal akan menjadi penyedia utama (off-taker) kebutuhan pangan bergizi tersebut.
Amran menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi emas Indonesia yang cerdas dan sehat. Dengan ketersediaan protein hewani yang terjamin, kualitas sumber daya manusia Indonesia diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
Lebih lanjut, pembangunan kawasan peternakan ini juga diprediksi akan membuka lapangan kerja baru yang luas bagi masyarakat lokal. Salah satu contohnya adalah kawasan di Bone, Sulawesi Selatan, yang akan menempati lahan seluas 150 hektare. Dengan adanya ekosistem yang lengkap, diharapkan perputaran ekonomi di daerah-daerah tersebut dapat tumbuh lebih pesat seiring dengan penguatan industri peternakan nasional.