EraNusantara – PT PELNI (Persero) tengah mengukir babak baru dalam sejarah pelayaran nasional dengan proyek ambisius pengadaan tiga kapal penumpang baru. Investasi kolosal senilai Rp 4,5 triliun digelontorkan untuk modernisasi armada, sebuah langkah strategis yang diharapkan mampu merevitalisasi konektivitas maritim Indonesia. Namun, di balik angka fantastis dan janji layanan prima, ada detail jadwal peluncuran kapal perdana pada tahun 2029 yang menyimpan cerita menarik tentang kompleksitas pembangunan kapal raksasa.
Direktur Utama PT PELNI (Persero), Budy Setyawan Wijaya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR pada Rabu (24/6/2026), membeberkan secara gamblang progres proyek vital ini. Dana sebesar Rp 4 triliun berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN), sementara Rp 500 miliar sisanya merupakan kontribusi dari dana internal perusahaan. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan kuat; sebagian besar armada PELNI saat ini telah berusia lebih dari 40 tahun. Meskipun secara teknis masih laik jalan, Budy mengakui bahwa usia tua kapal-kapal tersebut mulai menimbulkan kendala operasional yang berdampak pada efisiensi layanan. "Kapal-kapal kami banyak yang sudah di atas 40 tahun. Meskipun secara kelayakan tesis masih jalan, tapi mengingat umur pasti akan ada kendala-kendala operasional, sehingga ini menjadi tidak efisien," jelas Budy, menegaskan urgensi pengadaan kapal baru untuk mendukung kewajiban pelayanan publik (PSO).

Proses pengadaan ketiga kapal penumpang ini bukanlah pekerjaan singkat. Budy menjelaskan bahwa dibutuhkan rentang waktu yang cukup panjang, dengan target penyelesaian seluruh kapal pada tahun 2030. Saat ini, proyek telah memasuki tahap krusial, yaitu pembahasan kontrak dan desain kapal. Ini adalah fondasi penting sebelum masuk ke fase pembangunan fisik yang memakan waktu bertahun-tahun.
Secara spesifik, jadwal pembangunan kapal pertama direncanakan dimulai pada Juni 2027 dan rampung pada Oktober 2028. Setelah itu, kapal akan diluncurkan pada Oktober 2028, diikuti dengan tahap penyelesaian akhir hingga Juli 2029. Kapal perdana ini ditargetkan akan diserahterimakan kepada PELNI pada Juli 2029, siap untuk mulai melayani masyarakat.
Sementara itu, pembangunan kapal kedua akan menyusul, dimulai pada November 2027 dan diperkirakan selesai pada Maret 2029. Untuk kapal ketiga, proses konstruksi dijadwalkan berlangsung dari April 2028 hingga Agustus 2029. "Memang pengadaan kapal ini ketika kita membuat kapal baru, butuh waktu yang cukup lama, hampir 3 tahun, tapi ini kita sudah mulai," tutur Budy, menekankan komitmen perusahaan untuk menuntaskan proyek ini.
Tak berhenti pada tiga kapal yang didanai PMN, PELNI juga menunjukkan ambisi lebih jauh. Budy mengungkapkan rencana penambahan armada secara mandiri menggunakan dana internal perusahaan. Saat ini, kajian mendalam sedang dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah dan rute yang paling membutuhkan tambahan kapasitas layanan. Inisiatif ini bertujuan untuk menjangkau lebih banyak penumpang yang selama ini belum terlayani secara optimal. "Ini menjadi hal yang sangat penting sekarang, kita lagi me-review, kita harapkan ini segera keluar, sehingga penumpang-penumpang yang selama ini tidak terlayani bisa segera terlayani oleh PELNI," pungkas Budy, menggarisbawahi visi PELNI untuk terus memperkuat peranannya sebagai tulang punggung konektivitas maritim di seluruh penjuru Nusantara.
Editor: Rockdisc