EraNusantara – Kabar menggembirakan datang dari Shanghai, Tiongkok, di mana Indonesia secara resmi menorehkan sejarah sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Penandatanganan dokumen krusial ini, yang diinisiasi langsung oleh arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas sebelumnya, menandai langkah strategis Indonesia dalam kancah teknologi global. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa status sebagai pendiri WAICO membuka gerbang eksklusif bagi Indonesia untuk turut serta dalam setiap diskusi dan pengembangan mendalam terkait kecerdasan buatan (AI).
Keikutsertaan ini, menurut Airlangga, bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata komitmen Indonesia terhadap tata kelola dan etika pengembangan AI yang inklusif, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat kolektif. Visi ini selaras dengan pandangan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang mengibaratkan kemajuan AI sebagai sebuah "simfoni kolaborasi global." Senada, Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi, termasuk AI, untuk sebesar-besarnya peningkatan kesejahteraan rakyat dan penguatan daya saing bangsa di panggung internasional.

Penandatanganan bersejarah ini melibatkan perwakilan dari sekitar 29 negara, mencerminkan spektrum partisipasi global yang luas. Dari Asia Tenggara, selain Indonesia, hadir pula Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Laos. Jajaran negara pendiri juga diperkuat oleh delegasi dari blok-blok ekonomi besar seperti EAEU dan BRICS, serta perwakilan dari benua Afrika, Amerika Latin, hingga Timur Tengah. Kesempatan untuk bergabung sebagai anggota pendiri masih terbuka hingga 31 Juli mendatang, mengundang lebih banyak negara untuk berkontribusi.
Lebih jauh, Airlangga menyoroti potensi Indonesia untuk menjadi jembatan dalam mengatasi "kesenjangan digital" (digital divide) yang mungkin timbul akibat pesatnya perkembangan AI. Sebagai negara pendiri, Indonesia memegang kesempatan emas untuk secara aktif menyumbangkan pemikiran dan kebijakan dalam pengembangan tata kelola AI global, serta berperan vital dalam struktur kelembagaan WAICO. Ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa evolusi AI berjalan seiring dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana setiap kemajuan teknologi dapat dinikmati secara merata.
Keterlibatan Indonesia dalam WAICO juga sejalan dengan ambisi besar dalam ekonomi digital nasional. Proyeksi menunjukkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia akan melesat dari US$ 130 miliar tahun ini menjadi US$ 366 miliar pada 2030. Dengan fondasi program Industri 4.0 yang telah dicanangkan sejak 2018, pemerintah kini tengah mematangkan peta jalan (roadmap) AI nasional. Tujuannya jelas: memastikan pemanfaatan kecerdasan buatan tidak hanya terarah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Rockdisc