EraNusantara – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah strategis yang patut dicermati dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG). Alih-alih langsung mengandalkan pasokan besar, BGN dengan tegas memprioritaskan penggunaan bahan pangan lokal, khususnya beras, dari daerah setempat. Perum Bulog, meskipun menawarkan dukungan, diposisikan sebagai ‘penyangga’ atau cadangan terakhir, sebuah strategi yang digadang-gadang akan memutar roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan tanpa alasan. Ini adalah upaya konkret untuk memberdayakan petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta seluruh rantai pasok pangan di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tujuannya jelas: memastikan manfaat ekonomi dari program gizi ini dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, menciptakan efek domino positif bagi perekonomian lokal.

Menanggapi tawaran Perum Bulog untuk menyediakan beras premium, Sudaryono menyambut baik namun dengan catatan penting. Bulog tidak akan menggantikan peran vital pemasok lokal. Sebaliknya, lembaga negara ini akan berfungsi sebagai ‘buffer’ atau penyangga. Perannya akan krusial apabila terjadi kekurangan pasokan beras di suatu wilayah atau jika ada gejolak harga yang berpotensi merugikan konsumen. Beras yang ditawarkan Bulog pun adalah jenis premium, bukan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang biasa.
Dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co pada Sabtu (1/8/2026), Sudaryono menegaskan, "Usulan dari Bulog kami pandang positif. Namun yang ingin kami tegaskan, Program MBG tetap memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari daerah setempat. Kami ingin petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan manfaat dari perputaran ekonomi yang dihasilkan program ini."
Ia menambahkan bahwa keberadaan Bulog sebagai stabilisator harga dan penjaga stok pangan nasional sangat strategis. "Bulog memiliki fungsi sebagai stabilisator harga dan penjaga stok pangan. Karena itu kami ingin menempatkan Bulog sebagai buffer. Ketika pasokan beras lokal belum mencukupi atau ada potensi kenaikan harga akibat meningkatnya kebutuhan, Bulog dapat menjadi penyangga sehingga masyarakat tetap memperoleh harga yang wajar dan stok pangan tetap tersedia," jelas Sudaryono, menggarisbawahi peran krusial Bulog dalam menjaga keseimbangan pasar.
Sudaryono menekankan bahwa kebijakan ini merupakan bagian integral dari strategi BGN untuk memastikan Program MBG tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mampu memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi daerah-daerah pelaksana. Dengan mengutamakan pembelian bahan pangan dari lingkungan sekitar SPPG, diharapkan terjadi peningkatan perputaran ekonomi yang nyata di tingkat desa maupun kecamatan.
"Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru memicu gejolak harga di suatu wilayah karena menyerap pasokan yang terbatas. Karena itu kami memprioritaskan bahan pangan lokal terlebih dahulu. Jika memang terjadi kekurangan, baru Bulog hadir sebagai penyangga agar harga tetap stabil dan pasokan tetap aman," tutup Sudaryono, menggarisbawahi komitmen BGN terhadap stabilitas ekonomi dan ketersediaan pangan lokal.
Editor: Rockdisc