EraNusantara – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, secara tegas menyatakan bahwa Indonesia kini telah menjelma menjadi aktor krusial dalam jaringan rantai pasok global. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, mengingat semakin banyaknya komponen dan produk buatan dalam negeri yang terintegrasi ke dalam ekosistem manufaktur raksasa dunia, sebut saja Tesla, Airbus, dan IKEA. Anindya menyampaikan pengungkapan penting ini dalam pidato sambutannya di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran Kadin, yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Anindya merinci bagaimana berbagai produk dan komponen dari Indonesia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari supply chain global. Ia menyebutkan contoh-contoh yang membanggakan, mulai dari produk unggulan seperti PT Dirgantara Indonesia dan Pindad, hingga merek internasional seperti sepatu On Cloud dan minuman Kopiko. Yang lebih mengejutkan, lanjutnya, adalah fakta bahwa komponen esensial untuk produk-produk raksasa seperti mobil listrik Tesla, pesawat Airbus, dan perabot rumah tangga IKEA, ternyata diproduksi di tanah air. Pernyataan ini disampaikan Anindya dalam pertemuan strategis di Istana Kepresidenan, pada Jumat (31/7/2026) lalu.

Anindya juga membeberkan data ekonomi yang impresif. Ia mengungkapkan bahwa nilai ekspor Indonesia kini telah menyentuh angka sekitar US$ 300 miliar, atau setara dengan Rp 5.406,6 triliun per tahun (dengan asumsi kurs Rp 18.022 per dolar AS). Dari total tersebut, sekitar US$ 60 miliar disumbangkan oleh ekspor komoditas primer seperti batu bara, baja nirkarat, dan kelapa sawit. Namun, yang menarik perhatian adalah kontribusi sebesar US$ 240 miliar (sekitar Rp 4.325,28 triliun) yang berasal dari sektor manufaktur dan komponen industri. Angka fantastis ini, menurut Anindya, merupakan hasil kerja keras para anggota Kadin yang produknya telah menjadi tulang punggung rantai pasok global.
Menekankan kembali poin tersebut, Anindya menjelaskan, "Kami melihat bahwa dalam setahun kurang lebih US$ 300 miliar terjadi sebuah ekspor. Di mana di dalamnya di sini ada sekitar US$ 60 miliar datang dari batu bara, stainless steel, dan juga kelapa sawit. Tapi US$ 240 miliar itu adalah yang lain, di mana di dalamnya terdapat ‘kotak-kotak kecil’ yang kalau dipencet itu adalah supply chain dan juga para anggota Kadin." Pernyataan ini menggarisbawahi peran vital industri manufaktur dan UMKM anggota Kadin dalam menyokong perekonomian nasional.
Guna mempertahankan dan bahkan meningkatkan momentum positif ini, Kadin meluncurkan sebuah inisiatif strategis bernama ‘We Buy From Indonesia’. Platform ini dirancang tidak hanya untuk mendorong peningkatan volume ekspor, tetapi juga menarik investasi ke pasar domestik, mempercepat laju industrialisasi, serta memperluas jejak partisipasi Indonesia dalam jaringan rantai pasok global yang semakin kompleks.
Anindya menjelaskan lebih lanjut kepada Presiden, "Bapak Presiden, perkenankanlah kami ingin sekali menyampaikan suatu inisiatif yang berjudul ‘We Buy from Indonesia’. Ini adalah inisiatif yang bukan saja sebuah katalog, tapi ini adalah suatu platform teknologi dan juga perdagangan." Ia menambahkan bahwa misi utama dari platform ini adalah untuk menggenjot volume pembelian dari klien-klien yang sudah ada, sekaligus memperkuat dan meningkatkan kapasitas produksi para pelaku industri di seluruh penjuru Indonesia.
Editor: Rockdisc