EraNusantara – Harapan akan lahirnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil yang telah digulirkan pemerintah sejak awal tahun 2026, kini dihadapkan pada realitas yang tak kunjung terwujud. Di tengah kebuntuan progres, CEO Danantara, Rosan Roeslani, justru melontarkan sebuah gagasan revolusioner: membentuk entitas bisnis baru yang lebih lincah dan adaptif sebagai motor penggerak industri tekstil nasional.
Wacana pembentukan industri pelat merah di sektor strategis ini telah diembuskan sejak Januari 2026. Namun, hingga memasuki kuartal terakhir tahun 2026, dengan sisa waktu sekitar tiga bulan, rencana tersebut belum menunjukkan tanda-tanda realisasi. Rapat terbatas yang kembali digelar pemerintah hari ini di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, kembali menyoroti pengembangan industri tekstil. Namun, seperti pertemuan sebelumnya, belum ada kemajuan signifikan terkait realisasi BUMN tekstil yang dinanti.

Menyikapi kebuntuan ini, Rosan Roeslani, yang menjabat sebagai CEO Danantara, mengungkapkan strategi alternatif yang lebih proaktif. Ia menegaskan akan membentuk sebuah perusahaan baru yang akan memimpin geliat industri tekstil. "Kita akan bikin perusahaan baru memang. Akan bikin perusahaan baru bisa untuk mengembangkan di perusahaan-perusahaan yang sudah ada kita lihat dan kita bisa ber-partner dengan existing perusahaan tekstil yang sudah ada," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026), seperti dilansir eranusantara.co. Perusahaan baru ini nantinya akan berperan sebagai induk atau holding yang bertugas mengembangkan perusahaan tekstil lain sebagai mitra strategis.
Tak berhenti di situ, Rosan juga memaparkan visi untuk menciptakan kawasan industri tekstil terintegrasi. Konsep ini diharapkan mampu menyatukan berbagai elemen produksi dalam satu ekosistem yang efisien di bawah payung entitas baru tersebut. "Tapi untuk yang terintegrasi, itu kita akan menginisiasi, yang terintegrasi di dalam satu kawasan," terangnya.
Fokus pengembangan juga akan diarahkan pada peningkatan kapabilitas perusahaan tekstil yang sudah ada, khususnya dalam aspek teknologi dan peremajaan mesin. Rosan menekankan keterbukaan untuk bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki potensi besar. "Kita juga akan melihat apabila ada beberapa perusahaan tekstil yang berpotensi untuk kita kembangkan, terutama dari segi mesinnya, dari segi teknologinya, kita terbuka gitu," lanjut Rosan, menandakan komitmen untuk modernisasi industri.
Meskipun demikian, Rosan mengakui bahwa pemerintah belum menetapkan target waktu spesifik untuk pembentukan BUMN tekstil ini. "Belum," jawabnya singkat saat ditanya mengenai target tersebut, mengindikasikan bahwa proses ini masih dalam tahap perencanaan mendalam dan belum terikat jadwal yang ketat. Langkah ini menunjukkan pendekatan pragmatis dalam membangun fondasi yang kuat untuk masa depan industri tekstil nasional.
Editor: Rockdisc