EraNusantara – Lonjakan harga minyak mentah global yang sempat menyentuh angka US$ 104 per barel pada perdagangan Senin lalu telah memicu kewaspadaan serius dari Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan signifikan pada neraca perdagangan Indonesia, sebuah indikator vital bagi kesehatan ekonomi nasional.
Menanggapi situasi ini, Mendag Budi Santoso, dalam keterangannya di kantornya, Jakarta Pusat, pada Selasa kemarin, mengungkapkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini mengingatkan pada kondisi serupa yang terjadi pada periode April-Mei sebelumnya. "Harapan kita, dan yang terus kami upayakan, adalah bagaimana ekspor non-migas kita dapat terus meningkat," tegas Budi. Ia menambahkan, "Kita harus memastikan defisit di sektor migas tidak sampai menggerus surplus yang telah kita capai dari non-migas."

Data terbaru menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 120 juta pada Juli, membalikkan keadaan setelah dua bulan berturut-turut mengalami defisit pada Mei dan Juni. Namun, Mendag Budi menekankan pentingnya menjaga agar defisit di sektor migas tidak membengkak terlalu besar. "Jika defisit migas tidak terkendali, ada kekhawatiran bahwa surplus yang kita bangun dari sektor non-migas tidak akan cukup untuk menopang neraca perdagangan secara keseluruhan, dan kita bisa kembali ke posisi defisit," jelasnya, menggarisbawahi urgensi mitigasi risiko.
Untuk menggenjot kinerja ekspor dan memperkuat neraca perdagangan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan terus mengoptimalkan berbagai strategi, termasuk penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) yang dijadwalkan pada 14-18 Oktober mendatang. Mendag Budi mengapresiasi tingginya antusiasme dari para pembeli (buyer) internasional. "Hingga akhir September ini, kami telah menerima konfirmasi kehadiran dari lebih dari 4.000 buyer. Angka ini berpotensi meningkat dua kali lipat mendekati hari-H, mengingat pola konfirmasi yang seringkali dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum acara," ungkap Budi, optimis.
Kenaikan harga minyak global ini, seperti yang dilaporkan oleh Reuters pada Senin lalu, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent tercatat naik 81 sen (0,78%) menjadi US$ 104,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 76 sen (0,76%) menjadi US$ 101,06 per barel. Pemicu utamanya adalah serangan rudal dan drone yang dilancarkan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran ke Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu sebelumnya. Insiden ini secara signifikan memperburuk situasi di kawasan tersebut, terutama di tengah kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlanjut.
Editor: Rockdisc