EraNusantara – Euforia gelaran Piala Dunia FIFA 2026 ternyata tak hanya membanjiri layar kaca dan stadion, namun juga mengalir deras ke nadi perekonomian Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merilis sebuah kajian yang mengejutkan, memproyeksikan perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung yang fantastis, melampaui angka Rp 5,03 triliun, berkat pesta sepak bola akbar empat tahunan tersebut.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, menjelaskan bahwa estimasi nilai ekonomi ini mencakup spektrum aktivitas yang luas, membentang dari fase persiapan hingga puncak turnamen. Ini termasuk belanja masif di sektor penyiaran dan periklanan, kesepakatan sponsorship, promosi produk yang gencar, lonjakan penjualan perangkat elektronik dan merchandise, geliat transaksi di sektor perhotelan, restoran, dan kafe (HOREKA), hingga semaraknya kegiatan nonton bareng dan penjualan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam berbagai acara pendukung, termasuk Festival Rakyat 2026.

Menurut Kukrit, temuan ini menggarisbawahi bahwa dampak ekonomi dari ajang sekelas Piala Dunia jauh melampaui batas lapangan hijau. "Manfaatnya tidak hanya terkonsentrasi pada penyelenggaraan pertandingan semata, melainkan menyebar merata ke berbagai sektor usaha dan lapisan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia," tegas Kukrit dalam keterangan tertulis yang diterima eranusantara.co pada Kamis (16/7/2026). Ia menambahkan, kesuksesan ini adalah bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga penyiaran, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari event global.
Secara lebih rinci, Kadin Indonesia memaparkan bahwa kontribusi signifikan berasal dari belanja promosi produk melalui iklan on-air yang mencapai sekitar Rp 1,76 triliun. Sementara itu, aktivitas komersial off-air turut menyumbang sekitar Rp 850 miliar. Sektor HOREKA menjadi salah satu pilar utama dengan perputaran dana mencapai sekitar Rp 2,4 triliun, dilengkapi oleh kontribusi ekonomi dari berbagai event pendukung, termasuk gelaran Festival Rakyat 2026 yang meriah.
Tak berhenti pada perputaran langsung, Kadin juga mengidentifikasi potensi efek pengganda ekonomi yang substansial. Rangkaian Piala Dunia 2026 mendorong gelombang investasi pada perangkat keras seperti televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, serta peningkatan kapasitas tempat duduk dan fasilitas layanan makanan dan minuman. Fenomena ini selaras dengan data pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman yang mencatat kenaikan impresif sebesar 13,14% secara tahunan pada triwulan I-2026, menempatkannya sebagai salah satu sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi.
Partisipasi aktif masyarakat menjadi motor penggerak utama di balik masifnya dampak ekonomi penyiaran Piala Dunia 2026. Sebuah survei yang dilakukan Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia, pada periode 7-13 Juli 2026, memperkuat temuan ini. Hasil survei menunjukkan bahwa manfaat ekonomi Piala Dunia meresap hingga ke akar rumput komunitas. Sebanyak 78,1% responden mengaku setidaknya sekali mengikuti kegiatan nonton bareng selama turnamen berlangsung, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp 51 ribu per kegiatan, atau sekitar Rp 145 ribu per individu sepanjang gelaran akbar tersebut.
Kukrit menambahkan, mayoritas pengeluaran tersebut dialokasikan untuk konsumsi makanan dan minuman, pembelian paket data, serta beragam kebutuhan pendukung lainnya. Ini secara langsung menguntungkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi tontonan global yang memukau, tetapi juga mesin pendorong ekonomi yang signifikan bagi Indonesia.
Editor: Rockdisc