EraNusantara – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan tegas menyatakan bahwa negara-negara berkembang harus mengambil peran sentral dalam merumuskan dan menegosiasikan tata kelola global. Mereka tidak boleh hanya menjadi pihak yang menerima kebijakan tanpa partisipasi aktif, melainkan harus menjadi arsitek masa depan ekonomi dunia.
Pernyataan ini muncul di tengah lanskap ekonomi global yang kian terfragmentasi, di mana ketidakpastian perdagangan dan kerentanan rantai pasok menjadi ancaman nyata. Airlangga menekankan urgensi reformasi sistem multilateral. Indonesia, melalui suaranya, konsisten menyerukan sistem perdagangan yang tidak hanya terbuka dan transparan, tetapi juga inklusif, berbasis aturan, dan mampu menyediakan ruang yang cukup bagi pertumbuhan negara berkembang. Partisipasi aktif mereka dalam proses reformasi ini adalah kunci.

"Jika kita absen dari meja negosiasi, ketentuan-ketentuan global pada akhirnya akan diputuskan dan diberlakukan kepada kita, tanpa kita memiliki suara," tegas Airlangga dalam keterangannya. Oleh karena itu, Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi inisiator dalam membentuk tata kelola global yang tidak hanya lebih inklusif dan representatif, tetapi juga berkeadilan bagi semua pihak.
Pernyataan penting ini disampaikan Airlangga saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18. Pertemuan bersejarah ini berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada Sabtu (12/09).
Pengalaman sukses ASEAN menjadi bukti konkret bagaimana kolaborasi regional dapat menjadi fondasi ketahanan. Di tengah gejolak geopolitik dan geoekonomi yang terus berubah, ASEAN telah membuktikan diri sebagai platform vital bagi negara-negara anggotanya untuk mempererat dialog, meningkatkan kerja sama, dan secara kolektif menjaga stabilitas serta pertumbuhan ekonomi di kawasan.
KTT BRICS kali ini menjadi ajang diskusi substansi-substansi strategis yang krusial. Agenda pembahasannya meliputi penguatan kerangka institusional BRICS itu sendiri, isu-isu perekonomian dan perdagangan global, stabilitas keuangan internasional, perdamaian dan keamanan regional maupun global, ketersediaan energi, ketahanan pangan dan sektor pertanian, akselerasi digitalisasi dan inovasi teknologi, hingga tantangan perubahan iklim dan kelestarian lingkungan.
Secara spesifik di sektor ekonomi, fokus diskusi mencakup penguatan kerja sama di bidang keuangan, eksplorasi dan pengembangan mekanisme Local Currency Settlement (LCS) untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang dominan, upaya kolektif membangun rantai pasok global yang lebih tangguh dan adaptif, serta revitalisasi sistem perdagangan yang menjunjung tinggi prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparansi, dan berlandaskan aturan yang adil.
Melalui peran aktifnya di forum-forum global seperti BRICS, Indonesia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga arsitek masa depan ekonomi dunia yang lebih seimbang dan berkeadilan. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan suara negara berkembang didengar dan dipertimbangkan dalam setiap keputusan penting.
Editor: Rockdisc