EraNusantara – Kabar mengejutkan datang dari perairan Laut Jawa. Sebuah insiden serius menimpa kapal penumpang KMP Virgo Transport 8, yang tiba-tiba hilang kontak saat berlayar, memicu kekhawatiran mendalam akan nasib ratusan jiwa di dalamnya. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, segera merespons kejadian ini dengan pengerahan operasi penyelamatan berskala besar. Informasi lebih lanjut dapat diakses di eranusantara.co.
Kapal Roro Penumpang KMP Virgo Transport 8, berbendera Indonesia dengan bobot 8.540 GT, dioperasikan oleh PT Virgo Karya Shipping dan dinakhodai oleh Arief Yunianto. Berdasarkan data manifes yang dirilis Kemenhub, kapal ini mengangkut total 241 orang. Angka ini terdiri dari 30 kru kapal, 27 mitra kerja, 59 penumpang dewasa, 1 anak-anak, serta 124 sopir dan kernet. Tak hanya itu, 89 unit kendaraan bermotor juga turut serta dalam pelayaran nahas tersebut, mengindikasikan nilai ekonomi yang signifikan yang ikut terancam dalam insiden ini.

Kepala Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin, Heri Purwanto, menjelaskan kronologi awal yang mencekam. KMP Virgo Transport 8 bertolak dari Pelabuhan Surabaya pada 12 September 2026 pukul 06.52 LT, dengan tujuan akhir Pelabuhan Banjarmasin. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 LT, kapal tersebut dilaporkan mengalami kondisi listing atau miring secara signifikan, sebelum akhirnya kehilangan kontak di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa.
"Kami telah merespons cepat laporan insiden yang dialami KMP Virgo Transport 8 di wilayah perairan Masalembo," ujar Heri Purwanto dalam keterangan resminya, Minggu (13/9/2026). Ia menegaskan, "Fokus dan prioritas utama kami saat ini adalah keselamatan seluruh pihak yang berada di atas kapal melalui pengerahan operasi penyelamatan yang terkoordinasi." Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani krisis maritim yang berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik jiwa maupun materi.
Sebagai langkah penanganan darurat, Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin segera mendirikan posko di Terminal Penumpang Bandarmasih Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Basarnas, BUP PT. Pelindo, Kantor Distrik Navigasi Banjarmasin (VTS), Kepanduan PT. Pelindo III Banjarmasin, pihak keagenan kapal, serta keluarga korban. Sinergi lintas instansi ini krusial untuk memastikan setiap upaya penyelamatan berjalan efektif dan terstruktur.
Di lapangan, upaya evakuasi dan penanggulangan langsung dilaksanakan oleh unsur SAR gabungan yang dipimpin Basarnas Banjarmasin. Mereka dibantu oleh kapal-kapal yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian, seperti KM. Hai Da, MT. Mau Ha, dan TB. TCP. Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Banjarmasin juga mengerahkan Kapal Negara Kenavigasian KN Kunyit untuk memperkuat proses evakuasi. Berkat respons cepat ini, "sebanyak 143 orang penumpang telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat maupun mendapatkan perawatan medis," ungkap Heri, memberikan secercah harapan di tengah ketidakpastian, meskipun proses pencarian dan pendataan lebih lanjut masih terus berlangsung.
Terkait dugaan penyebab kecelakaan, baik dari faktor alam, faktor teknis, maupun faktor manusia, serta potensi dampak terhadap muatan, pencemaran lingkungan, dan harta benda lainnya, pihak KSOP menyatakan bahwa semuanya masih dalam tahap investigasi mendalam dan konfirmasi lanjutan. Ini menunjukkan kompleksitas insiden maritim yang tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dan ekologis yang signifikan. "KSOP Utama Tanjung Perak dan KSOP Kelas I Banjarmasin berkomitmen untuk terus memantau perkembangan penanganan insiden ini secara berkala dan akan menyampaikan pembaruan informasi resmi kepada masyarakat seiring dengan progres di lapangan," pungkas Heri, menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan krisis ini.
Editor: Rockdisc