EraNusantara – Kondisi ekonomi Indonesia sedang diuji berat oleh gejolak geopolitik global, terutama konflik yang memanas di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Situasi ini bukan hanya sekadar riak kecil, melainkan gelombang besar yang menghantam fondasi ekonomi nasional dari berbagai sisi. Para pakar menyoroti setidaknya empat guncangan utama yang kini menekan ketahanan ekonomi Tanah Air.
Salah satu tekanan paling terasa datang dari lonjakan harga minyak dunia. Ekonom Ariyo DP Irhamna, dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita pada Selasa (7/4/2026), menjelaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah diperkirakan telah mendorong kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel. Bagi Indonesia, sebagai negara importir minyak, kenaikan ini langsung membebani defisit transaksi berjalan (CAD) hingga US$3-4 miliar, yang berdampak signifikan pada neraca pembayaran. Ini semakin kompleks mengingat pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Guncangan kedua adalah ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap produk-produk Indonesia. Ariyo menyebutkan bahwa tarif yang semula 32% sempat turun menjadi 19%, namun kini mekanismenya belum jelas, menciptakan ketidakpastian bagi eksportir. Ketiga, pasar domestik masih dibanjiri produk-produk dari Tiongkok, mulai dari baja, elektronik, hingga tekstil, meskipun pemerintah telah berupaya menahan arus impor tersebut.
Ancaman keempat yang tak kalah serius adalah "decoupling technology" antara Tiongkok dan AS. Indonesia terjepit di tengah tarik-menarik dua raksasa ekonomi ini. Data menunjukkan bahwa 34% impor mesin Indonesia berasal dari Tiongkok, dan total 25% impor kita datang dari negara tersebut. Di sisi lain, ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar US$12-13 miliar, menempatkan Indonesia pada posisi yang dilematis.
Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, menambahkan perspektif dari sektor perdagangan dan keuangan. Menurut Halim, Indonesia saat ini menghadapi "capital outflow" atau pelarian modal yang cukup serius. "Capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun terakhir," ungkapnya. Fenomena ini, menurut Halim, telah terjadi secara bertahap, di mana dana domestik maupun asing keluar dari Indonesia dan belum kembali. Konflik Iran versus AS-Israel, lanjutnya, hanya memperparah risiko keuangan yang sudah ada.
Halim juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5% selama 15 tahun terakhir. Kondisi ini, kata Halim, menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas angka pertumbuhan itu sendiri. "Jarang sekali suatu negara yang pertumbuhan ekonominya stagnan bisa rata di 5% per tahun. Hal itu menimbulkan keraguan kredibilitas dari angka pertumbuhan seperti itu," tegasnya, sebagaimana dikutip eranusantara.co.
Editor: Rockdisc