EraNusantara – Pasar komoditas global kembali menyorot emas, logam mulia yang selalu menjadi primadona saat ketidakpastian melanda. Pekan ini, harga emas diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan signifikan, bahkan berpotensi menembus rekor tertinggi di angka Rp 3,15 juta per gram. Prediksi optimis ini datang dari pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, yang melihat serangkaian faktor kuat mendorong daya tarik emas.
Menurut Ibrahim, momentum kenaikan harga emas dunia sudah terasa sejak awal pekan. Setelah menutup perdagangan akhir pekan lalu di level Rp 3,01 juta per gram, emas diprediksi akan menguji resistensi pertamanya pada hari Senin ini di kisaran Rp 3,052 juta per gram, setara dengan US$ 5.178. "Jika skenario ini terwujud, kita akan melihat pergerakan harga yang cukup agresif di awal pekan," jelas Ibrahim dalam keterangannya kepada eranusantara.co.

Proyeksi penguatan tidak berhenti di situ. Sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan harga emas akan terus merangkak naik, mencapai puncaknya di level Rp 3,15 juta per gram. Namun, ia juga mengingatkan akan potensi koreksi. Apabila terjadi pelemahan tak terduga, harga emas diperkirakan akan bergerak di rentang Rp 2,90 juta hingga Rp 2,95 juta per gram.
Volatilitas harga emas ini didorong oleh beberapa sentimen krusial. Salah satu yang paling dominan adalah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik, terutama antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan Iran, yang ditandai dengan pengerahan kapal perang, menimbulkan kekhawatiran serius di pasar. Potensi gangguan pasokan minyak mentah global akibat konflik ini dapat memicu lonjakan inflasi, menjadikan emas sebagai aset lindung nilai yang sangat diminati. "Para pelaku pasar sangat mencermati dan khawatir tentang potensi konflik yang terjadi di Timur Tengah," tegas Ibrahim.
Selain itu, kebijakan moneter di Amerika Serikat juga menjadi penentu. Spekulasi mengenai berakhirnya rezim suku bunga tinggi oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve, semakin menguat. Prediksi penurunan suku bunga akan mendorong investor untuk mengalihkan dananya dari instrumen berbasis dolar AS ke aset yang lebih aman dan stabil seperti emas, guna melindungi nilai kekayaan mereka dari potensi inflasi.
Faktor lain yang tak kalah penting, dan sering luput dari perhatian, adalah masalah teknis terkait kelangkaan cadangan emas global. Ibrahim menyoroti bahwa permintaan emas terus meningkat secara signifikan, sementara pasokannya justru semakin menipis. Ia bahkan mengutip laporan yang menyebutkan bahwa sekitar 80 perusahaan tambang emas di seluruh dunia diperkirakan akan kehabisan cadangannya dalam beberapa tahun ke depan, bahkan ada prediksi produksi mereka akan habis pada tahun 2028. "Kita melihat bahwa permintaan cukup tinggi, tapi barangnya sedikit. Ini yang turut memicu kenaikan harga emas," pungkasnya.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik yang memanas, prospek pelonggaran kebijakan moneter AS, dan kelangkaan pasokan global, harga emas tampaknya memiliki landasan yang kokoh untuk melanjutkan tren kenaikannya. Para investor diharapkan tetap waspada dan mencermati dinamika pasar yang sangat responsif terhadap perkembangan global.
Editor: Rockdisc