EraNusantara – Hanoi, Vietnam – Kabar kurang menggembirakan datang dari Vietnam, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Di tengah ambisi besar untuk terus melaju, perekonomian Negeri Naga Asia ini justru menunjukkan sinyal perlambatan signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) dan listrik yang tak terkendali, ditambah tekanan inflasi, menjadi biang keladi utama yang kini membayangi target pertumbuhan ambisius mereka.
Data terbaru dari Kantor Statistik Nasional (NSO) Vietnam menunjukkan, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 7,83% pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini memang masih tergolong tinggi, namun jauh melambat jika dibandingkan dengan capaian 8,46% pada kuartal sebelumnya, yakni kuartal IV-2025. Nguyen Thi Huong, Direktur NSO Vietnam, tidak menampik bahwa kondisi ini menimbulkan tantangan serius. "Tekanan dari kenaikan biaya harga energi terhadap inflasi menimbulkan tantangan bagi tata kelola ekonomi," ungkap Huong seperti dikutip oleh eranusantara.co.

Inflasi juga menjadi momok yang kian nyata. Pada Maret 2026, harga konsumen melonjak 4,65% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan biaya transportasi menjadi pemicu utama, yakni melesat 10,81%. Angka ini jauh lebih tinggi dari kenaikan 3,35% yang tercatat pada Februari 2026. Huong bahkan memperingatkan bahwa memasuki kuartal kedua, situasi sosial-ekonomi Vietnam akan terus menghadapi hambatan, menjadikan pencapaian target pertumbuhan 2026 sebagai "tantangan besar".
Dampak langsung dari kenaikan harga energi ini sudah mulai terasa. Maskapai penerbangan di Vietnam terpaksa mengurangi operasional mereka demi menekan biaya. Pemerintah pun tak tinggal diam, dengan sigap memangkas pajak BBM, memberikan subsidi harga, dan bahkan mendorong kebijakan kerja jarak jauh (work from home) untuk mengurangi konsumsi energi secara nasional.
Lantas, apa yang memicu lonjakan harga energi ini? Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut-sebut sebagai penyebab utama. Perang tersebut telah mendorong kenaikan harga BBM sebesar 21% dan harga solar mencapai 84% di Vietnam. Untuk mengatasi ketergantungan ini, para pejabat senior Vietnam kini tengah gencar mencari sumber minyak alternatif dari berbagai pemasok, termasuk negara-negara Teluk, Jepang, dan Korea Selatan.
Di sisi lain, beberapa indikator ekonomi menunjukkan gambaran yang bervariasi. Impor Vietnam pada Maret 2026 melonjak 27,8% menjadi US$47,11 miliar, namun sayangnya diiringi defisit perdagangan bulanan sebesar US$670 juta. Kabar baiknya, arus masuk investasi asing langsung (FDI) pada kuartal I-2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif, naik 9,1% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai US$5,41 miliar.
Meskipun demikian, Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, tetap bersikukuh untuk mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 10% tahun ini. Ia menjanjikan serangkaian langkah strategis, termasuk peningkatan investasi publik, diversifikasi pasar ekspor, dan penguatan rantai pasokan. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan.
"Negara kita masih menghadapi keterbatasan, kekurangan dan banyak kesulitan yang terkait dengan tekanan manajemen ekonomi makro dan memastikan keamanan energi," tegas Chinh dalam rapat kabinet. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa beratnya tantangan yang harus dihadapi Vietnam dalam menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan realitas gejolak ekonomi global dan domestik.
Editor: Rockdisc