Eranusantara.co – Harga kedelai impor yang terus merangkak naik hingga menyentuh kisaran Rp 11.300-11.500 per kilogram, jauh di atas harga normal yang sebelumnya di bawah Rp 10.000, telah menciptakan dilema besar bagi para perajin tahu di Indonesia. Kenaikan harga bahan baku utama ini secara signifikan mengikis margin keuntungan mereka, memaksa banyak usaha kecil untuk berjuang keras demi bertahan. Ironisnya, di tengah lonjakan harga ini, ketergantungan pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat, justru semakin menguat.
Salah satu yang merasakan dampak langsung adalah Sudiarto (63), seorang perajin tahu yang telah mendedikasikan hampir tiga dekade hidupnya untuk memproduksi tahu di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Setiap hari, ia mengolah kedelai impor asal Negeri Paman Sam yang kini harganya sudah sangat mahal. Bagi Sudiarto, penggunaan kedelai impor AS bukanlah pilihan tanpa alasan, melainkan sebuah keharusan yang terbentuk sejak akhir tahun 1990-an.

"Dulu masih ada Jember, Lampung, itu masih banyak," kenang Sudiarto saat ditemui di lokasi produksinya. Ia menceritakan bagaimana pasokan kedelai lokal dari berbagai daerah mulai menghilang secara bertahap sejak periode tersebut, digantikan sepenuhnya oleh kedelai impor. "Tahun 1998-an itu masih lokal dulu. Malah saya dulu langsung ambil dari kampung-kampung," tambahnya, menggambarkan masa ketika ia bisa mendapatkan bahan baku langsung dari petani.
Namun, Sudiarto juga mengakui adanya perbedaan signifikan antara kedelai lokal dan impor. "Cuma memang kedelai lokal itu kotornya bukan main. Jadi nggak kayak Amerika, bersih kayak gitu ya, nggak ada tanahnya," jelasnya. Aspek kebersihan ini menjadi salah satu faktor praktis yang membuat kedelai impor AS lebih diminati, mengurangi waktu dan tenaga untuk proses pembersihan.
Terlepas dari masalah kebersihan, Sudiarto justru memuji kualitas kedelai lokal dari segi kandungan pati atau aci yang tinggi, menjadikannya sangat ideal untuk produksi tahu. "Padahal ini kan tahu yang diambil aci-nya. Untuk lokal sebenarnya bagus aci-nya," ungkapnya penuh kebingungan. Ia bahkan mengaku sering mencampur kedelai lokal dengan impor untuk mendapatkan produk tahu dengan kualitas terbaik, menggabungkan keunggulan pati lokal dengan kebersihan produk impor. "Saya juga bingung itu kenapa kacang lokal kok sekarang sudah nggak ada, bingungnya di situ," tambahnya, menyiratkan sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab mengenai hilangnya komoditas strategis ini dari pasar domestik.
Ketika kedelai lokal semakin langka, Sudiarto pernah mencoba mencari alternatif lain, termasuk kedelai impor dari Tiongkok. Selain AS, Tiongkok memang dikenal sebagai salah satu pengekspor biji kedelai terbesar ke Indonesia. Namun, eksperimen ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
"China kedelainya bagus, cuma aci-nya kurang," terang Sudiarto. Menurutnya, meskipun biji kedelai Tiongkok terlihat baik, kandungan patinya yang lebih rendah dibandingkan kedelai lokal maupun AS, berdampak langsung pada jumlah tahu yang bisa dihasilkan. Volume produksi tahu dari tiap kuintal kedelai menjadi berkurang drastis, yang tentu saja sangat merugikan.
Sudiarto menekankan bahwa kandungan aci adalah inti utama dalam produksi tahu. Jika pati pada kedelai rendah, maka volume tahu yang dihasilkan akan jauh berkurang. Ini berbeda dengan produksi tempe, yang menggunakan biji kedelai utuh sehingga kandungan pati tidak sepenting itu. "Tahu yang diambil acinya. Kalau tempe kan nggak ambil aci, ngambilnya ininya (kedelainya). Itu bedanya tempe sama tahu," jelasnya.
Di tengah harga bahan baku yang terus melambung, memilih kedelai dengan kandungan aci rendah sama saja dengan mengundang kerugian. "Sudah acinya kurang, saat ini harga lagi naik, akhirnya kita pasti minus, itu pasti," keluh Sudiarto. Kondisi inilah yang kemudian membelenggu para perajin tahu seperti Sudiarto, membuat mereka sangat bergantung pada kedelai AS, meskipun harganya berulang kali naik dan membebani. Kualitas dan efisiensi produksi menjadi pertimbangan utama yang mengalahkan faktor harga, menyisakan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah untuk mengembalikan kejayaan kedelai lokal demi ketahanan pangan dan kesejahteraan perajin.